Gadis Gamis Coklat






Sekelebat bayangan yang melintas didepannya mengalihkan perhatian laki-laki yang tengah duduk bersandar di sudut kampus. Ekor matanya mengikuti kemana si pemilik bayangan pergi. Perpustakaan. Tempat favoritnya. Buru-buru ia menutup laptonya dan diam-diam mengikuti gadis dengan gamis berwarna coklat itu bergerak menuju lantai dua.
Disatu meja yang berada ditengah perpustakaan itu, si gadis meletakkan tasnya sebagai penanda bahwa dia yang akan menempati bangku itu. Laki-laki itu tak lantas menyusulnya. Ia memberikan jeda waktu beberapa menit untuknya menarik nafas dan mengatur detak jantungnya saat itu. Degupannya membawa pengaruh pada telapak tangannya yang kini nampak basah. Disamping agar si gadis tak curiga jika ia membuntutinya. Ia hanya sesekali mengintip gadis dengan gamis panjang yang sedang mencari-cari buku pad arak Ilmu Hukum. Tampak ia mengambil sebuah buku yang cukup tebal lalu tersenyum setelah. Akh, senyum itu. Senyuman yang membuatnya tak ingin berpaling dari si gadis sejak pertama bertemu dan berkenalan, sekalipun mereka berbeda angkatan. Belum pernah ia merasakan ini sejak menginjakkan kaki di perguruan tinggi ternama ini. Bukan pula pertama kalinya ia merasakannya. Meski begitu, rasa gugup itu tetap melanda dan mendera.
Nafasnya sudah mulai beratur dengan baik. Perlahan ia membuka pintu  perpustakaan dan berjalan penuh keyakinan menuju si gadis yang sudah tenggelam dengan apa yang dikerjakannya. Si gadis sontak menoleh saat melihat laki-laki itu meletakkan laptop miliknya diatas meja.
“kosong?” tanyanya. Si gadis tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, tanda bangku dihadapannya kosong dan tidak langsung mempersilahkannya duduk. “terima kasih”
“tumben?” tanya si gadis.
“nyari colokan. Meja ini salah satu yang isi colokan banyak, yang lainnya semuanya terisi,” ia mengukir alasan. Gadis itu mengedarkan pandangannya sekeliling. Laki-laki itu benar. Ia hanya balas tersenyum. ‘alasan yang tepat! Untunglah,’ gumamnya dalam hati sembari menarik nafas lega.
Selanjutnya tak ada obrolan diantara mereka. Masing-masing tenggelam dengan kegiatannya. Si gadis tenggelam dengan buku dan tugasnya, sedang si laki-laki berpura-pura sibuk agar tak tampak sedang memandangi keindahan ciptaan Tuhan dihadapannya. Cukup lama, hingga ponsel si gadis yang ia letakkan di atas meja bergetar. Senyum simpul terukir kembali di wajah lugunya.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya. “Oh, sudah di bawah. Iya, saya turun sekarang. Wa alaikum salam,” pembicaraan singkat yang terjadi di hadapannya. Laki-laki itu hanya memandang dengan penuh tanya. Sembari merapikan perlengkapannya, ia berpamitan, “saya duluan ya. Abang sudah menunggu di bawah,”. Laki-laki itu mengangguk. Wajah lesu terpatri disana tepat setelah gadis dengan gamis coklat itu meninggalkannya.
Laki-laki itu tau benar siapa yang dia maksud dengan panggilan abang. Bukan kakak laki-lakinya, melainkan seseorang yang bersiap untuk menjadi masa depannya. Seseorang yang mau menunggunya dua tahun lagi hingga meraih gelar sarjana. Seseorang yang sudah merajai hatinya. Ia melangsa sendiri. Sekali lagi ia merangkai bait doa untuk menguatkan hatinya dan sesekali menyelipkan pinta yang seharusnya tidak boleh ia utarakan. Pinta, agar gadis itu menjadi masa depannya……

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS DWIJENDRA

AiRizki Melali #1 : Pantai Melasti, Uluwatu

AiRizki Melali #3 : Padang Bulia Waterfall , Buleleng