Sebuah Mimpi
Sejak SD saya suka membaca. Dimulai dari sebuah novel misteri Goosebumps milik seorang teman. Dari komik sampai novel teenlit. Saat itu saya hanya dapat menyewa komik atau novel dari sebuah rental buku yang jaraknya cukup jauh dari rumah. 30 menit dengan menggunkan sepeda gayung, siang hari yang panaspun, saya terjang demi menyewa atau mengembalikan buku. Uang jajan saya pada saat itu tidak cukup untuk membeli sebuah novel yang saya suka. Pun, jika uang jajan itu saya kumpulkan sedikit demi sedikit, akan sangat lama sekali untuk membeli sebuah novel saja. Maka menyewa adalah pilihan yang cukup menyenangkan. Bahkan saya pernah menghabiskan membaca novel Harry Potter And The Prissoner Of Azkaban dan buku keempatnya Harry Potter And The Goblet Of Fire seminggu sebelum saya ujian nasional SMP. Kebiasaan itu tidak dapat saya hentikan. Sesekali di tengah mata pelajaran yang tidak saya suka, saya membaca novel yang saya taruh di kolong meja. Mulai mengkhayalkan betapa mudahnya hidup dalam s...