Abang
Seorang pria dengan tubuh tegap berdiri di depan
rumah yang berada di tepi jalan raya. Rumah yang sangat sederhana jika
dibandingkan dengan rumah-rumah lain disekitarnya. Dirumah itulah ia
dibesarkan, dengan kasih sayang meski dengan cara yang berbeda dari yang lain. Paling
tidak itulah yang ia rasakan hingga ia duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Hingga saat ayah mengajaknya pergi dari rumah tu. Tidak, tidak. Ayah bukan
mengajaknya pergi. Tapi ‘menculiknya’. Dengan dalih mengajak jalan-jalan ayah
mengajaknya keluar rumah. Dari sejak itu, ia tak pernah kembali kerumah. Menangis?
Sudah. Memberontak ingin pulang? Sudah. Mengamuk? Sudah. Ayah tak bergeming
untuk kembali. Pun ayah tak memberi pengertian tentang apa yang sudah terjadi. Tentang
perceraiannya dengan ibu, dan tentang ibu barunya. Yang ia tau, saat tinggal
bersama ayah, sudah ada wanita disana. Yang tak pernah memperdulikannya, hanya
ayah. Wanita itu tak pernah marah. Saat ia meminta makan, wanita itu menyajikannya.
Saat ia merengek minta sesuatu, ia hanya berkata, ‘tunggu hingga ayah pulang,
dan kamu bisa minta apa saja padanya,’. Dan saat ayah pulang, ia tak berani
bicara untuk meminta. Hingga detik ini aku tak bisa memanggilnya ibu. Bagiku ibu
hanya satu, yaitu ibu yang selalu berteriak padaku, yang selalu aku pukuli saat
kecil.
Tak terasa air mata menetes dari ujung mata kirinya.
Mengingat setiap inci kenangangan yang melintas di kepalanya. Lamunannya buyar
saat seorang anak remaja, yang ia taksir usinya tak terpaut jauh darinya,
menatap dengan heran.
“cari siapa, mas?” tanya anak itu. Ia segera menyeka
air matanya. Menatap lekat anak remaja dihadapannya dan berusaha menebak siapa
dia. Anak itu nampak masih menunggu jawaban dari pertanyaannya. Sebelum ia
menjawab, seorang laki-laki menyusul keluar dengan sebuah ransel kecil yang di
dalamnya menyembul sepansang stik drum. Mereka berdua saling menatap. Mata laki-laki
itu mengerenyit memperhatikannya.
“mengapa baru kembali?” tanya laki-laki itu padanya.
“siapa bang?” anak remaja itu bertanya laki-laki
yang membawa stik drum. Ia masih tidak bisa berkata, karena rindu yang terlalu
membuat bibirnya tekunci bahkan untuk sebuah senyum sungging.
“abang Aying” jawab laki-laki itu. Perlahan,
senyumnya merekah, tapi tidak dengan laki-laki dihadapannya. Yang terpancar
dari matanya hanya amarah. Laki-laki itu merogoh ponselnya, menekan sesaat disana
lalu kembali menatapnya.
“rindu rumah, rindu Ibu, rindu Mbak Menk,” jawabnya.
“dan rindu Ayip pastinya,” jawabnya. Namun, jawaban itu tak memuaskan laki-laki
dihadapannya. Amarah masih menggeliat dimatanya. Ketiganya terpaku. Tak ada
kata, termasuk anak remaja yang masih menatapnya heran. Ia baru ingat. Anak remaja
itu, saat ia diculik ayah, masih baru belajar berjalan. Memorinya belum utuh,
dan belum mengenal siapa-siapa.
“Acila masuk aja,” ucap si pembawa stik drum. Tebakannya
benar. Itu Acila. Dia begitu manis.
Tanpa dia sadari seorang wanita sudah berdiri
dibelakangnya. Menatapnya heran bercampur haru. Saat ia menoleh dan mendapati
wanita itu, air matanya kembali mengalir bersama dengan air mata yang juga
jatuh dari kedua kelopak mata wanita itu.
“Abang,” suara wanita tua merasuk di telinganya. Suara
yang ia rindukan selama bertahun tahun. Suara yang ia cari selama
bertahun-tahun.
Mereka diam. Dirinya, laki-laki pembawa stik drum,
wanita dibelakangnya, dan wanita tua yang muncul di ambang pintu. Mereka menangis,
kecuali si pembawa stik drum. Mereka tak bergerak. Untuk waktu yang cukup lama,
mereka melepas rindu dengan cara masing-masing. Tak bersentuhan, tak saling
memeluk…..

Komentar
Posting Komentar