Ciaran Egan chapter 1 ( Fanfiction )
Dublin, senin pagi...
Gadis itu nampak terburu – buru.
Ia seperti tak memperhatikan jalan di depannya yang sudah ramai dilalui orang
yang berlalu – lalang. Senin pagi yang ramai, seperti biasa. Segala kesibukan
dimulai hari ini. Pun, sama dengannya yang kali ini harus mengambil langkah
seribu agar segera tiba di tokonya. Bruk! Ia langsung terduduk di jalan saat
tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang lewat di depannya. Tepat saat ia
sudah berhasil mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Sebuah tangan yang cukup kekar
terulur dihadapanya, untuk membantunya berdiri. Untuk beberapa saat hal itu tak
dipedulikannya, karena ia terlalu memikirkan rasa sakit yang ia rasakan di
bagian belakangnya. Namun, tangan itu tak juga bergeser. Mau tak mau ia
menyambutnya, dan ia harus mengatur degup jantungnya saat ini karena pria
dihadapannya kini adalah seorang yang tak bisa dibilang biasa saja. Terlalu
tampan! Kata maaf yang seharusnya terucap dari bibirnya harus tertahan karena
terpana dengan sosok yang baru saja menolongnya untuk berdiri. Amarah dan
kekesalan yang tadinya berkumpul di dada dan ingin di ungkapkan, seketika ia
urungkan karena laki – laki itu menatapnya tajam dengan mata birunya yang
begitu dingin. Laki – laki itu berlalu tanpa kata, dan hingga laki – laki itu
menghilang di tengah kerumunan orang di jalan pagi itu, ia baru menyadari jika
ia sudah akan terlambat. Seseorang pasti sudah menyiapkan kata sambutan pagi
ini untuknya. Langkahnya semakin terburu saat dihadapannya telah nampak sebuah
papan nama bertuliskan “De Bali”.
“ Selamat pagi!” sapaan seseorang
diujung lorong menyambutnya. “ on time, ingat? Lembur lagi?”
“ pagi juga, Zen. Aku pasti tepat
waktu jika saja aku nggak nabrak orang dari alaska pagi ini,”
“ seseorang dengan jaket tebal di
tengah cuaca yang mulai menghangat?” tebak Zenith asal .
“ lebih dari itu,” jawab gadis itu
singkat. Wajahnya nampak sedikit kesal, meski ia tau bahwa itu bukan kesalahan
laki – laki itu. Paling tidak ia bisa sedikit menanyakan keadaannya yang
tertabrak oleh tubuhnya yang tegap.
“ tak bisa kubayangkan bagaimana
dinginnya. Sudahlah, lebih baik segera siapkan dirimu, Sar,”
Gadis bernama Sarah itu segera
menuju ruang ganti untuk mempersiapkan dirinya. Berhias sedikit agar lebih
menarik terlihat oleh para pelanggan yang berkunjung ke tokonya. Sebuah toko
yang ia dan saudara sepupunya, Zenith, bangun dari titik nol. Sebuah toko yang
menjadi impian mereka berdua. Toko yang mereka beri nama De Bali. Toko yang
menyajikan beberapa pernak – pernik khas pulau dewata itu. Mereka mendirikannya
dengan alasan, tak banyak orang yang memiliki kesempatan yang sama dengan
mereka untuk berkunjung ke Bali. Pulau yang menjanjikan ketenangan dalam setiap
deburan ombak pantainya yang indah. Pulau yang tak jauh berbeda dengan sebuah
kota bernama Sligo di barat Irlandia, negaranya. Mungkin mereka tak punya cukup
uang untuk berkunjung ke Bali, atau mereka hanya tak memiliki waktu berlibur
yang tepat dan cukup banyak untuk melakukan perjalanan sehari semalam dari
Ireland menuju Bali dengan pesawat. Meski hanya sebuah toko oleh – oleh, mereka
tak ingin berhenti sampai disana. Di bagian loby, Sarah memberikan ide untuk
meletakkan beberapa meja dan kursi, hingga meskipun orang tak ingin masuk
kedalam toko, mereka bisa menikmati suasananya. Sebuah food truck sering kali
parkir disana, hingga mereka bisa menggunakannya untuk menikmati kudapan. Dan
entah sebuah kebetulan atau apapun namanya, toko mereka bersebelahan dengan
sebuah toko buku. Melihat semua itu, bagi Sarah, sudah membuatnya cukup
bahagia.
Ia segera bergabung dengan Zenith.
Merapikan lipatan kain pantai, mengatur tata letak beberapa aksesoris, dan
menambahkan stok barang yang mereka display. Menjelang tengah hari, tenaga
mereka mulai dikuras. Toko mulai tampak ramai. Meja diluar sudah penuh terisi.
Mereka harus bekerja cepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang memerlukan
bantuan.
Hari
keberuntungan sepertinya. Kondisi yang sangat jarang terjadi karena hingga
sore, arus pelanggan yang datang cukup ramai. Dan disaat seperti inilah, Sarah
terkadang tak memperhatikan langkahnya. Terlalu asik bercengkrama dengan
pelanggan dan sekali lagi di hari itu ia bersenggolan dengan seseorang.
“maaf,
aku tidak sengaja,” ucapnya segera. Orang itu hanya menoleh sebentar dan tampak
tak tersinggung sama sekali. Ia meneruskan memilih beberapa pernik
dihadapannya. Sedang Sarah, harus kembali terdiam dengan sosok itu.
Kesadarannya hilang sebentar dan kemudian dikembalikan oleh customer yang tadi
dilayaninya.
“ada
yang bisa kubantu?” tawar Sarah saat ia telah selesai dengan customernya,
sedang orang itu tak juga beranjak dari sana.
“tidak
terima kasih. Tapi mungkin laki – laki disebelah sana membutuhkan bantuanmu,”
jawabnya masih dengan ekspresi yang sama dan menunjuk pada seorang pria yang
tingginya hampir sama namun lebih pirang.
“baiklah
kalau begitu. Saya permisi,” ucap Sarah. Saran laki – laki itu tak membuatnya
langsung menuju seseorang yang ditunjuk, melainkan orang lain yang berada di
sekitarnya, karena ia pikir, orang itu belum membutuhkan bantuannya. Lagipula
masih ada rekannya yang lain yang berada di dekatnya.
“permisi,”
sapa seseorang pada Sarah.
“ada
yang bisa saya bantu?” Sarah berbalik dan melihat sosok laki – laki yang tadi
di tunjukkan padanya.
“aku
sedang mencari beberapa barang untuk kubuatkan bingkisan. Hanya saja, kau tau,
para pria terkadang tidak terlalu pandai untuk urusan seperti ini,” ungkap laki
– laki itu.
“baiklah,
saya akan coba membantu Anda, Tuan...”
“Finnian.
Namaku Finnian,” Finnian memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangannya.
“baiklah
Tuan Finnian, saya Sarah, dan mari kita lihat beberapa yang saya punya disini,”
ajak Sarah.
“aku
di toko sebelah,” ucap laki – laki yang pertama kali Sarah tawarkan bantuan
berlalu melewati mereka. Tak urung membuat perhatian Sarah sedikit tersita.
“jangan
sampai kamu tenggelam disana,” tak ada jawaban dari pesan yang diungkap
Finnian, entah apa maksudnya, Sarah enggan mengerti. Ia justru sibuk mencari
barang – barang yang akan dia gunakan sebagai bingkisan.
“
bingkisan kopi?” Finnian bertanya saat Sarah menunjukkan barang pilihannya.
“hanya
untuk mencerminkan sebuah keakraban dan kehangatan. Mungkin Anda butuh
alternatif lain?”
“jika
memang ada, mengapa tidak dicoba?” tawar Finnian. Dan Sarah kembali mencari
beberapa barang untuk bingkisan customernya.
“satu
set aroma terapi? Ada beberapa aroma dan pilihan oil burner disini yang bisa
Anda sesuaikan dengan seseorang yang akan Anda berikan, sehingga tidak akan
mengecewakan,” ucap Sarah. Finnian nampak berfikir sejenak, terlihat seperti
mempertimbangkan pilihan pertama atau kedua.
“mungkin
aku pilih yang pertama. Lebih akrab dan bersahabat,” putus Finnian akhirnya.
“
baiklah, akan kususun untukmu. Sambil menunggu, Anda bisa menikmati sajian di
loby, jika berminat,”
“itu
milikmu juga?”
“akh,
tidak. Aku baru mengenal mereka sejak mereka pertama kali parkir di depan
tempat ini,” jawab Sarah sambil tersenyum.
“baiklah
kalau begitu, aku akan menunggu di luar. Panggil aku jika sudah selesai. Dan
jangan terlalu lama ya,”
“tidak
akan terlalu banyak menyita waktu makan siangmu,”. Finnian melangkahkan kakinya
keluar toko sedang Sarah langsung berkutat dengan bingkisannya. Sesekali ia
menoleh keluar dan saat kesekian kalinya ia melirik, kali ini didapatinya
Finnian tidak sendiri. Laki – laki dingin itu sudah berada dihadapan Finnian.
“Tuan
Finnian!” panggil Sarah dari ambang pintu. Spontan Finnian menoleh dan bangkit
dari duduknya. Ia segera menghampiri Sarah kembali ke dalam toko untuk membayar
bingkisannya.
“aku
menambahkan sebuah foto frame dari olahan kertas daur ulang ini. Jika Anda
keberatan, aku akan menggantinya,”
“tidak,
tidak apa – apa. Lebih baik seperti ini, tidak perlu diganti,” ucap Finnian
sambil membayar total pembelanjaan yang di berikan Zenith. “tidak ada biaya
tambahan untuk ini?” tanya Finnian setelah melihat struk belanjanya.
Zenith
tersenyum “ hanya bagian dari pelayanan kepada customer,” jawabnya. Tak ada
tanggapan dari Finnian. Ia berterima kasih, pamitan lantas pergi. Sarah dan
Zenith memandang Finnian yang menghilang ke dalam mobilnya. Satu lagi customer
yang ke luar toko dengan tersenyum dan akan melupakan hari ini. Paling tidak,
mereka sudah melakukan yang terbaik.

Komentar
Posting Komentar