Alana Egan - Chapter - 1 ( Fanfiction - Revisi )
Chapter – 1
Jemarinya lincah memainkan nada yang tertulis pada
partitur di hadapannya. Tuts hitam putih itu bergantian mengeluarkan nada –
nada terbaik. Ia mencoba menikmati permainannya.
“boleh aku tau kau
memainkan lagu apa?” seorang lelaki dengan kursi roda menghampirinya, di iringi
seorang wanita dengan baki berisi kudapan malam hari.
“bukan apa – apa. Hanya sebuah lagu lama, dan aku sedang
mempelajarinya,”
“lambat laun kau pasti bisa, sayang,” Maa mencoba
menyemangati.
“tentu. Aku akan lebih rajin mengunjungi apartemen Ciaran
saat berada di Dublin,”
“jangan sampai mengganggu kakakmu dan Sarah,” Dad
mengingatkan.
“tentu. Aku akan melakukannya sembari mengunjungi Ashley
dan saat mereka sedang cuti,” jawabnya. Maa dan Dadda hanya tersenyum
menanggapi.
“bagaimana dengan kelas menarimu, Al?” tanya Maa.
“sejauh ini tidak ada masalah. Dan dalam waktu dekat ini
kami akan mengikuti sebuah kompetisi,” jawab Alana. Dad dan Maa menyambut
dengan sumringah. Sisa malam itu mereka habiskan dengan obrolan ringan dan
berakhir saat Dadda sudah terlihat lelah.
**
Dentuman musik medley mengiringi gerakan kelompok penari
itu. Mereka bergerak dengan lincah dan membentuk formasi seperti dilatih
sebelumnya. Alana menjadi pemeran utama kali ini. Ia berlatih dengan keras.
Semua harus terlihat sempurna, agar penampilannya tak mengecewakan.
“latihan yang sempurna. Aku harap kalian semua tetap
konsisten melakukannya. Baiklah, cukup untuk hari ini. Kita lanjutkan esok.
Terima kasih dan sampa jumpa semua!” tutup Saskia, pelatih untuk kompetisi kali
ini.
“yang tadi itu, luar biasa, Al,” puji Adrian saat Alana
tengah berkemas untuk pulang.
“terima kasih. Dan kamu juga sudah melakukan yang
terbaik. Semoga kita bisa menampilkan yang terbaik nantinya,” balas Alana. “Aku
duluan ya. Sampai jumpa besok,”
“ya. Sampai jumpa besok,” Adrian melambaikan tangan pada
Alana yang berlalu. Ia menghilang di balik pintu kaca yang menghubungkan studio
dengan meja customer service di depan.
“masih belum menyerah?” Saskia menepuk bahu Adrian yang
masih terpaku pada sosok Alana yang sedang mengobrol dengan seorang teman.
“tidak sampai dia luluh,”
“dan dia salah satu yang tersulit,”
“bukan. Dia berbeda dari yang lain. Maka itu, aku enggan
untuk menyerah,”
“sudahlah. Dia terlalu keras untukmu,”
“tidak ada yang tidak mungkin bagiku,”
“terserah padamu saja,” Saskia meninggalkan Adrian yang
kini seorang diri di studio itu. Alana, gadis yang membuatnya tak ingin jatuh
cinta lagi selain padanya.
**
Alana memilih singgah di cafe milik ayahnya sebelum
pulang kerumah. Entah mengapa, ia igin menikmati suasana pantai sore ini. Tiba
di Seashell pub, Alana langsung menempati sebuah meja yang menghadap langsung
ke laut. Salah satu hal yang paling disukainya selain menari, mencium aroma
pantai dan pemandangan lepas yang membuat pikiran menjadi lebih tenang. Sejenak
ia memejamkan mata untuk menikmati suasana yang di tawarkan. Alunan musik
akustik yang terdengar menambah teduh suasana.
Namun, itu tak berlangsung lama. Karena kumpulan pria
yang berada di seberang mejanya mengganggu kenikmatan itu. Mereka yang masih
menggunakan pakaian kantor lengkap dengan dasi dan jas yang di letakkan di
belakang kursi membuat sedikit keributan. Sayup – sayup terdengar mereka sedang
meminta salah satu dari mereka untuk bernyanyi di panggung kecil di sudut pub.
Pub ini sendiri sering di gunakan Finnian – kakak keduanya – untuk mencari
bakat – bakat terpendam yang bisa di bawa nasional.
Salah seorang dari mereka akhirnya menyerah. Ia melangkah
gontai menuju panggung kecil itu. Rona wajahnya nampak malu, namun, tak
membuatnya ragu untuk mengambil sebuah gitar disana. Tak berapa lama, gitar itu
diletakkannya kembali dan ia segera menghampiri seorang staff yang berada di
balik meja bar. Alana masih memperhatikannya, karena laki – laki dan teman –
temannya sudah berhasil mengganggu sore yang ia rencanakan. Musik akustik yang
menemaninya sedari tadi tak terdengar lagi. Sepertinya laki – laki itu meminta
untuk mematikan musiknya. Ia kembali keatas panggung dan mengambil gitar.
“selamat sore semua. Maafkan sudah mengganggu kalian,
namun ini harus kulakukan. Aku lebih memilih menerima tantangan dari teman –
temanku yang berada di ujung sana, daripada harus membongkar rahasiaku dihadapan
mereka. Semoga ini bukan persembahan yang buruk. Dan ya, setiap orang selalu
memiliki saat pertama,” buka laki – laki itu. Ternyata mereka bermain Truth or
Dare. Permainan klasik yang cukup menyenangkan. Alana sendiri beberapa kali
memainkannya saat masih sekolah.
Jeda cukup lama tercipta. Semua mata tertuju padanya.
Hening, hingga terpecah dengan suaranya yang mulai menyanyikan lagu What About
Now. Suara yang bagus, pikir Alana. Harusnya Finn ada disini dan mendengarnya.
Alana terhanyut pada lagu yang dibawakan. Pandangannya tak lepas dari laki –
laki itu. Sebuah senyum sungging perlahan tercipta dari wajahnya yang manis.
**
Gadis itu terus memperhatikan kearahnya. Ia begitu gugup
karena ini kali pertama ia bernyanyi di hadapan banyak orang. Akh, lebih baik
mempresentasikan program perusahaan daripada harus seperti ini. Senyum sungging
gadis itu semakin membuatnya gugup. Gadis itu sudah mencuri perhatiannya lebih
dulu. Saat ia datang dan pelayan cafe menyapanya dengan sebutan ‘nona Alana’.
Alana. Gadis yang dulu hingga kini selalu menyita pikirannya. Sekalipun ia
beberapa kali menjalin hubungan di London dengan beberapa wanita, namun, Alana
tetap tak bergeser dari hati dan pikirannya.
Senyum sungging itu kini berganti dengan senyum lebar dan
tepuk tangan saat ia berhasil menyelesaikan tantangan dari teman – temannya. Ia
kembali ke meja dimana teman – temannya sudah menertawakannya karena mau
melakukan tantangan yang diberikan.
“selamat, Will! Kau kami nyatakan berhasil menjawab
tantangan kami,” Artur menyambutnya. Yang lain bergantian menyalaminya dan
memberikan selamat.
“ah. Sudahlah, sebaiknya kita pulang. Aku harus
mengerjakan presentasiku untuk hari Senin,” ajak William.
“hei. Mengapa buru – buru? Apa melakukan tantangan tadi
membuatmu ingin segera kembali kerumah?” tanya Artur.
“akh, terserah apa katamu,” jawab William sambil
mengemasi barang – barang miliknya.
“sepertinya kami akan disini sebentar lagi,”
“jangan sampai terlalu mabuk. Karena tidak ada yang akan
menopang kalian satu persatu,” pesan William sebelum pergi. Kebiasaan teman –
teman William adalah, jika sudah minum minuman beralkohol, maka mereka akan
lupa semuanya. Lupa sudah berapa banyak minuman yang masuk ketubuh mereka. Dan
hanya William lah yang selalu tetap sadar dan membopong mereka satu – satu dan
mengatar mereka hingga kerumah masing – masing.
William menoleh sekali lagi pada sosok Alana yang kini
hanya nampak bagian punggungnya. Sekali lagi, setelah bertahun tak bertemu,
Alana mencuri perhatiannya.

Komentar
Posting Komentar