Alana Egan - Chapter : 2 - ( A Fanfiction )
Chapter – 2
Semburat
wajah yang berhias senyum simpul sore tadi masih terbayang di benak William. Ia
tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Alana dalam keadaan seperti itu. Sudah
beberapa bulan ini ia kembali ke Irlandia, negaranya, rumahnya yang selalu ia
rindukan. Dan tentunya Alana. Gadis tomboi itu kini sudah bertumbuh menjadi
seorang yang semakin mencuri perhatiannya. Sedikit menyesalkan mengapa ia tak
sempat mengambil sebuah foto disana. Keindahan langit senja ditambah Alana,
maka sore tadi menjadi sore yang sempurna. Tapi, sepertinya Alana tak mengenali
dirinya. Mungkin sudah terlalu lama ia pergi dan baru kembali. Sulit meminta
izin pada orang tua kandungnya untuknya bisa kembali ke negara ini.
Lamunannya
terbuyarkan ketika sebuah telepon masuk. William memandang sejenak layar
ponsel. Sebuah nama wanita tertera disana. Ia menimbang sejenak untuk menerima
atau mengabaikan panggilan itu. Setelah dua kali nada panggil itu terulang,
sebuah tombol di tekannya.
“halo,” sapa
seorang wanita diseberang telepon.
“ada apa?”
tanya William langsung. Ia tak ingin berbasa basi.
“sedang
sibukkah? Apa aku mengganggumu?”
“tidak. Aku
tidak sedang sibuk. Ada apa?”
“tidak apa –
apa. Hanya ingin tau kabarmu saja. Sejak kau kembali, aku belum mendengar
kabarmu,”
“aku baik.
Jika hanya itu yang ingin kau tanyakan,” jawab William seperlunya. Cukup lama
keheningan tercipta. William masih menunggu apa yang akan ditanyakan
selanjutnya, sedangkan wanita di seberang sana masih menyusun pertanyaan basi
selanjutnya. Bukan William tak mampu membuat obrolan di telepon itu lebih
menarik, hanya saja, wanita itu sudah merebut waktunya indahnya yang sedang
mengingat sosok Alana.
“kau masih
disana?” tanya William karena tak ada suara sejak tadi.
“ya, aku
masih disini,” suaranya terdengar ringan seakan tersenyum.
“aku hanya
khawatir terjadi sesuatu, karena tak ada suara sedikit pun,”
“kau
mengkhawatirkanku?”wanita itu bertanya dengan sumringah, seakan sebuah angin
segar baru saja menghampirinya.
“tak usah
berlebihan seperti itu. Aku hanya khawatir, itu saja. Tidak lebih,”
“bagiku
sudah lebih dari cukup, Will,”
“baiklah,
Cal. Sampai nanti,”
“sampai
nanti, William,” tutup Callista. Ia tak sanggup menutupi semu wajahnya. William
mengkhawatirkannya saja sudah cukup. William Shawn Michael McDaid – Feehily,
pria yang menyelamatkan hidupnya, yang mengembalikan semangat hidupnya, dan
kini mengambil separuh hatinya. Ia hanya berharap William dapat merasakan hal
yang sama seperti yang ia rasakan, meskipun ia tau itu sangat sulit. Callista
tak ingin menyerah. Ia akan menunggu hingga William membuka hati untuknya,
meski itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
**
Mingu
terakhir sebelum perlombaan tingkat nasional itu di gelar. Latihan intensif
semakin diberikan Saskia untuk meningkatkan performa teamnya. Meski ini bukan
kali pertama, namun, semua tetap harus terlihat sempurna. Sesekali ia
memperhatikan Adrian yang memberikan tatapan dan sentuhan lebih pada Alana, dan
sekian kali itu pula ia menegur Adrian. Lama – lama ia tidak nyaman dan Ally
pun terlihat sama. Saskia lantas mematikan musik yang sedang mengalun hingga
membuat semua orang menatapnya terkejut.
“Adrian! Aku
tidak tau dan aku tidak peduli dengan apa yang ada dipikiranmu saat ini! Ini
sudah kesekian kalinya kita mengulang hanya karena kau!” sentak Saskia. Tak
pernah mereka lihat ia seperti itu. Saskia adalah pelatih yang sabar. Terlampau
sabar.
“Aku minta
kau tidak mengulanginya besok. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan segan
untuk menggantimu dengan yang lain. Cukup untuk hari ini. Kita libur besok
untuk mengembalikan tenaga kalian dan pikiran Adrian pada tempatnya. Kita
bertemu lusa. Terima kasih,” tutup Saskia setelah ia menarik nafas panjang
untuk mengendalikan emosinya yang meluap. Tak ada kata yang keluar dari semua
penari, termasuk Alana yang sedari tadi benar – benar tidak nyaman dengan sikap
Adrian yang berlebihan. Bukan ia tak menegurnya, tapi sepertinya kata – kata
Saskia ada benarnya. Ia juga tak mengerti apa yang sedang di pikirkan Adrian.
Dia bisa saja merusak semua latihan yang sudah mereka lakukan selama ini.
“Al!”
panggil Adrian sebelum Alana meninggalkan studio. Alana berbalik dan hanya
memberikan tatapan yang bisa diartikan ‘tak usah bicara padaku’. “Maafkan aku
untuk hari ini,”
“sebaiknya
kau dengarkan ucapan Sas jika masih ingin berada dalam team,” jawab Alana
singkat dan berlalu meninggalkan Adrian yang masih mendapat tatapan kecewa dan
marah dari teman – teman satu teamnya. Sepertinya ia benar – benar mengacaukan
latihan hari ini. Hanya karena emosinya yang berlebih pada Alana. Sebuah emosi
ingin memiliki seorang Alana Egan.
**
Latihan yang
sangat menguras tenaga. Pulang hingga malam dan tak menghasilkan sesuatu yang
maksimal, membuat rasa lelah yang merasuk menjadi berlipat ganda. Tiba di
pelataran rumah, ia cukup terkejut dengan dua mobil Ford terparkir apik disana.
Satu milik Ciaran dan satu lagi milik Finnian. Jarang sekali mereka datang di
waktu yang bersamaan. Meski mereka lebih sering pulang belakangan seiring
kondisi Dadd yang naik turun. Entahlah, malam ini Alana merasa tidak enak. Ia
bergegas menuju bangunan utama rumah mewah itu. Didapatinya Finn yang tak lepas
dari Ipad nya dan Ciaran dengan bukunya di ruang tengah. Tak terlihat Maa atau
Dadda. Bahkan sepertinya Sarah juga tidak ada.
“Hai, Al.
Cukup malam kau pulang,” sapa Finnian yang menyadari kehadiran Alana.
“Kak, apa
Dadda baik – baik saja?” Alana tak menghiraukan sapaan Finnian. Ia hanya ingin
bertanya kondisi Dadd pada Ciaran yang notabene seorang dokter. Belum lagi
Ciaran menjawab pertanyaannya, Maa keluar dari kamarnya. “ Maa, apa Dadd baik –
baik saja?” tanyanya sambil menuju Maa.
“Dadda tidak
apa – apa sayang. Mungkin ia hanya terlalu lelah,” jawab Maa sembari mengusap
sayang wajah Alana yang nampak khawatir.
“boleh aku
melihatnya?”
“tentu.
Pelan – pelan saja, dia baru saja beristirahat,” Alana hanya mengangguk
mendengar pesan Maa. Ia bergegas masuk dan mendapati ayahnya yang terbaring
dengan wajah pucat. Ia belum terpejam. Dan segera menoleh saat derit pintu
terbuka itu terdengar sayup ditelinganya. Alana berhambur ke sisi tempat tidur
ayahnya.
“Dadd....”
panggilnya perlahan. Dadda menyambutnya dengan tersenyum.
“hai,
sayang. Bagaimana latihanmu hari ini? kau terlihat lelah,”
“seperti
biasa. Bagaimana keadaanmu?”
“aku tidak
apa – apa. Dan sudah lebih baik saat dua kakakmu tiba disini. Dan aku pastikan
akan datang di kompetisimu minggu depan,” balas Dadd seakan tau yang
dikhawatirkan putrinya.
“tidak perlu
dipaksa bila memang tidak bisa, Dadd. Kau bisa menyaksikannya dari televisi,”
“rasanya
pasti akan berbeda. Lagipula sesekali aku ingin keluar rumah,”
“terserah
padamu saja. Sebaiknya Dadd istirahat sekarang. Aku keluar dulu,”
“kau juga,
sayang,” sebuah kecupan di kening ayahnya menutup percakapan mereka malam itu.
Alana menoleh sekali lagi padanya yang kini terpejam dan pucat sebelum benar – benar
menutup pintu.
**

Komentar
Posting Komentar