Greatest Month of The Year 2016 is April
April 2016. Bulan yang begitu berarti buatku. Sebelumnya,
mengingat bulan ini hanya akan membangkitkan luka lama yang tak berujung.
Sebuah luka yang ditorehkan oleh seseorang yang begitu aku cinta. Namun, tahun
ini menjadi berbeda. Aku tak akan mengingat bulan ini sebagai sebuah masa
dimana aku mengingatmu, namun, aku akan mengingatnya sebagai sebuah masa dimana
Tuhan Yang Maha Baik memberikan semua yang aku inginkan selama ini.
Bulan yang melelahkan, mungkin. Di awal bulan, harus
terburu – buru dengan deadline mengumpulkan progress project improvement yang
sedang kukerjakan. Karena ketidak siapanku untuk mempersiapkan teamku dalam
mengerjakan project improvement itu. Harus loyalitas beberapa waktu,
mengorbankan tenaga dan pikiran. Menjadi bulan yang menguras banyak uang karena
harus membayar uang KKP di bulan berikutnya. Awal minggu yang berlalu tanpa
kesan yang mendalam.
Minggu kedua, menjadi minggu yang amat sangat menguras
tenaga, pikiran dan kekuatan diri. Jika seandainya aku menyerah pada diriku, mungkin
aku tak akan bertahan untuk tetap berdiri dan bekerja seperti selayaknya. Dan
cerita berawal dari sini. Hari minggu, sebuah pesan BBM masuk di grup Fikom
yang mengatakan bahwa aku diminta untuk ikuit Public Speaking. Karena kupikir
hanyalah sebuah seminar, gampanglah aku mengatur waktu untuk menghadiri seminar
itu dan bekerja. Langsung saja ku iya kan tanpa berfikir kapan dan dimana
lokasinya. Hari senin, aku dipanggil oleh seorang dosen dan di informasikan
bahwa itu adalah sebuah lomba. Dan lebih mengejutkan lagi, bahwa itu
menggunakan bahasa Inggris. Informasi hanya aku dapatkan sampai disana. Aku
masih tak tau tema apa yang harus aku bicarakan, karena dijanjikan esoknya aku
akan dipertemukan dengan seorang dosen Bahasa Inggris yang akan membimbing kami
– aku dan lima orang yang lain – dalam lomba tersebut. Hari selasa, aku bertemu
dengan Mrs. Ferry untuk membahas mengenai acara itu. Dan kami diberi lima
materi untuk kami bahas. Aku memilih mengenai online bisnis. Perkembangan
online bisnis. Malam itu juga, aku begadang, menyelesaikan tulisan yang akan
aku bawakan. Tulisan aku kerjakan menggunakan bahasa Indonesia untuk kemudian
aku dan teman – teman sejawatku translete ke Bahasa Inggris. Alhasil, pukul
tiga dini hari aku baru lega untuk memejamkan mataku, meski esoknya aku harus
bangun pagi – pagi untuk kembali bekerja. Hari rabu, sepulang bekerja, aku
terburu – buru menuju kampus untuk bertemu dengan teman yang akan membantuku
mentranslete tulisan itu. Entah mengapa hari itu jadwal kuliah padat. Dosen ada
semua, dan kami tidak bisa pulang awal. Pukul setengah sembilan, kami menuju
sebuah restaurant fast food untuk menyelesaikan itu. Targetku, malam itu aku
harus menyelesaikan transletenya dan kurekam, sehingga dengan mudah aku bisa
mempelajarinya. Lelah merasuk, saat aku baru tiba dirumah pukul sebelas malam
dan itupun belum selesai. Masih harus begadang dirumah masing – masing hingga
pukul tiga dini hari, sedang aku baru menyelesaikannya hampir pukul empat pagi.
Aku berterima kasih memiliki dua teman yang luar biasa membantuku. Hari kamis,
aku bangun lebih pagi, karena seperti direncakan sebelumnya, aku dan teman –
teman di tempat kerja akan melakukan perjalanan ziarah ke makam salah seorang
wali pitu di Bali, yang berlokasi di bukit kebun raya bedugul. Tidak mungkin
aku membatalkannya, karena aku adalah salah satu panitia. Maka, pagi – pagi
sekali aku berangkat ke kuta, untuk bersama rombongan berangkat ke bedugul
menggunakan bus. Masih sangat mengantuk, di bus aku hanya tertidur, tak
menghiraukan apapun, meski setengah perjalanan aku sudah mulai mual, karena
tidak ada makanan yang masuk ke perutku sejak malam, kecuali spageti yang aku
beli di restaurant fast food itu. Turun dari bis, aku sudah ingin memuntahkan
semua yang sudah masuk ke perutku. Tapi, entah mengapa sangat sulit. Dengan
kepala yang pusing, kupasrahkan semuanya pada Tuhan. Sampai mana kekuatan tubuh
ini akan kuuji kemampuannya. Alhamdulillah, aku bisa sampai di puncak bukit
2000 mdpl, lokasi makam Habib Umar. Udara yang dingin menusuk, ditambah hujan
lebat saat tiba di puncak dan akan turun setelah selesai memanjatkan do’a, membuat
kaki kananku kram. Perlu beberapa saat untuk mengembalikannya kesemula. Sampai
dibawah, aku sudah tak bernafsu makan, meski terasa lapar, karena aku paham,
dalam kondisi tubuhku yang seperti ini, jika aku makan, maka apa yang masuk
akan segera aku muntahkan begitu perjalanan pulang ke kuta, dan aku memilih
makan cemilan yang tersedia di mobil seorang manager yang ikut. Dan tebakanku
benar. Tiba di kuta, turun dari mobil, aku langsung memuntahkan semua cemilan
dan air yang masuk. Dan itu membuat tubuhku sedikit lebih baik. Aku harus
bersegera kembali ke kampus, karena sudah ada janji dengan dosen bahasa
Inggrisku. Dan hari jumat, adalah hari dimana aku harus menunjukkan kemampuan
terbaikku. Total 13 peserta, 2 dari taman rama school, dan 6 orang dari
Dwijendra, sisanya, dari JCI. Alhamdulillah, ini adalah kali pertama aku
mengikuti acara seperti ini, dan aku bisa menjadi salah satu dari lima perserta
terbaik, meski tak masuk tiga besar berikutnya, aku bersyukur.
Minggu ketiga menjadi minggu pencapaian selanjutnya.
Minggu dimana tulisanku dimuat di harian balipost dalam kolom suara mahasiswa.
Yang akhirnya membuatku bebas ujian untuk mata kuliah Metode Penulisan Media
Massa. Alhamdulillah....
Dan minggu keempat menjadi penyempurnanya. Saat coffee
morning, 26 April, store managerku mengumumkan aku BEST EMPLOYEE. Sesuatu yang
aku kira akan didapatkan oleh salah seorang rekan departemenku, karena memang
seharusnya dialah yang mendapatkannya. Namun, karena beberapa hal, akhirnya
best employee itu diberikan kepadaku.
Bulan yang berat, namun sangat membuatku tak ingin
melupakan rasa syukur atas apa yang sudah Tuhan berikan untukku. Hanya berharap
semua prestasi ini bisa kembali ku torehkan......dan menjadi batu loncatan
untukku bisa menuju tanah Eropa.......
Komentar
Posting Komentar