Chapter 1: Alana : The Family



            Chapter 1 : The Family

Suara musik dari studio tari yang berada dibelakang rumah, sedikit mengusik siangnya. Ia sedang menyelesaikan beberapa lirik lagu dengan memandang laut Sligo. Cuaca yang cukup panas, namun tidak terlalu mengganggunya untuk membuat sebuah lagu. Gazebo ini cukup nyaman untuknya menemaninya melewati hari. Pintu studio itu sedikit terbuka, dan itu yang membuat suara musik up – beat yang dimainkan terdengar sampai ditelinganya. Bayangan yang sesekali terlihat dimatanya, sangat mengundang untuk melihat seperti apa latihan yang sedang berlangsung. Dengan lincah ia berpindah dari gazebo yang tak terlalu tinggi itu, ke kursi roda yang sudah menemaninya disisa hidupnya kini. Ia sudah terbiasa melakukannya sendiri, meski beberapa waktu yang lalu, ia sempat membuat putranya – seorang spesialis orthopedi -  mengoperasinya karena ia terjatuh karena tidak berhati – hati.
            Senyumnya mengembang, saat melihat putrinya tengah berlatih untuk kompetisi yang diikutinya, yang mengharuskan ia mempersembahkan jenis tari yang berbeda disetiap minggunya. Sebuah kompetisi yang juga di siarkan oleh stasius TV ternama. Mewarisi kepiawaian istrinya yang juga dulu sangat mencintai dunia tari hingga ia membangun studio tari ini atas permintaan istri tercintanya. Putrinya segera menyadari kehadiran dirinya disana dan menghentikan tariannya setelah lompatan terakhir.
“ suara musiknya terdengar hingga keluar,” ucap Kian saat Ally mematikan playernya.
“ akh, sepertinya aku lupa menutup pintunya, Dadd. Maafkan aku. Aku mengganggumu, Dadd?” tanya Alana. Kian menggeleng dan tersenyum simpul.
“ tidak, sayang. Aku hanya ingin melihatmu latihan hari ini. Bagaimana kompetisinya?”
“ ya, seperti yang bisa Dadd lihat sendiri, aku berada di urutan bawah. Tapi tak apalah. Setidaknya aku sudah berusaha menampilkan yang terbaik,” ucap Ally setengah kecewa.
“ ya, aku tau. Kau sudah melakukan yang terbaik, sayang. Aku yakin kamu pasti bisa,” ucap Kian meyakinkan. Berharap itu bisa membangkitkan semangat anaknya. “ aku rasa sudah waktunya makan siang. Sepertinya Maa sudah menyelesaikan masakannya,”
“ boleh aku membantumu, Dadd?” tawar Ally
“tentu saja,”
Mereka berdua bergerak menuju ruang makan dengan Ally mendorong kursi roda Kian. Di ruang makan sudah menunggu Keavy dan Collins yang sudah didudukkan di kursinya.
“ hai, sayang. Sudah menyelesaikan latihanmu?” Keavy menyambut putri dan suaminya dengan memberikan mereka ruang untuk duduk.
“ setelah ini aku akan latihan kembali. Mungkin tidak dirumah. Aku memerlukan partner kali ini. Sepertinya, aku sudah kehabisan ide,”
“ jangan menyerah seperti itu, sayang. Maa yakin kamu bisa melakukannya. Tidak kau undang dia kemari?”
“ biar aku saja yang menemuinya. Hari ini dia sedang ada latihan,”
“ baiklah, All, terserah padamu saja,”
**
Malam belum terlalu larut saat Alana meninggalkan studio tari temannya yang cukup jauh dari rumahnya. Ia sudah bisa memperkirakan jam berapa ia akan sampai dirumah, untuk itu, ia sudah meminta izin lebih dahulu untuk tidak makan malam dirumah. Latihan yang cukup menguras banyak tenaga, tapi setidaknya ada beberapa gerakan baru yang dipelajarinya hari ini. Ia berharap akan bisa mengangkatnya pada posisi yang tidak mengkhawatirkan Sabtu nanti. Akh, jikapun hasilnya mengecewakan, ia tidak mau ambil pusing. Toh kompetisi ini diadakan hanya untuk tujuan hiburan semata, untuk itu beberapa artis atau anak artis dilibatkan didalamnya. Tapi, sepertinya ia butuh tempat untuk refreshing setelah ini, dan ia sudah bisa memperkirakan tempat itu dimana.
Jalanan kota Sligo cukup lenggang malam ini. Maklumlah, hari ini hari kerja, jadi tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Dan saat ia melajukan mobilnya di jalanan tengah kota, sebuah coffee shop unik menarik perhatiannya. Dari luar nampak sebuah bangunan bergaya klasik seperti Keavy’s Corner milik ibunya, namun yang ini lebih berkesan bangungan di tahun 1900. Beberapa pohon menjalar terlihat di atap bagian luar, tapi sepertinya bukan tanaman asli. Dibuat seperti akan memasuki sebuah pintu menuju negeri dongeng. Alana menepikan mobilnya, memperhatikannya sejenak kemudian seperti tertarik magnet yang kuat, Alana bergerak memasuki toko itu. Will’s Coffe. Tulisan itu berkelap kelip di sisi sebelah kiri pintu masuk.
Alunan musik klasik menyambutnya saat ia memasuki bangunan ini. Tak jauh berbeda dengan sisi luarnya, di bagian dalam pun ia masih dapat menemukan hal – hal yang berbau tempo dulu. Ia seperti dibawa pada suasana akhir 90 – an. Masih belum terlalu ramai, karena sepertinya toko ini baru dibuka. Matanya berkeliling sejenak, mencari tempat kosong dan didapatinya sebuah meja dengan dua kursi di sebelah jendela yang menghadap langsung ke jalan. Seorang pelayan menghampirinya.
“ selamat malam. Silahkan daftar menunya. Panggil kami jika sudah siap dengan pesanan Anda,” ucap pelayan itu menyodorkan daftar menu pada Alana lalu pergi meninggalkannya.
“ baiklah, terima kasih,” ucap Alana. Ia membolak – balik daftar menu yang diberikan. Menu yang cukup variatif untuk sebuah cafe yang baru debut. Alana akhirnya memesan croisant dan segelas moccachino untuk temannya malam ini. Sembari menunggu pesanan, pianis di sudut ruangan ini memainkan lagu yang samar – samar memaksanya untuk mengingat lagu apa dan siapa penyanyinya. Dan ia berhasil mengingatnya bersama dengan pesanannya yang tiba. Every Little Thing You Do. Salah satu lagu milik band besar yang mana ayahnya menjadi salah satu personilnya.
Menikmati pesanannya sembari matanya berkeliling memandang interior cafe ini dan telinga yang juga terus disuguhkan dengan alunan musik romantis. Sepertinya tempat ini akan menjadi favorit muda mudi untuk menikmati malam minggu mereka. Satu per satu pengunjung mulai meninggalkan cafe ini. Dilihatnya jam di layar ponselnya. Semakin malam, dan sepertinya cafe ini akan mengakhiri jam operasional mereka. Alana masih belum puas. Matanya tertuju pada jajaran foto yang terpajang di salah satu sisi toko. The 90’s music, tulisan yang memberi judul beberapa pigura yang terpajang disana. Ada foto ayahnya, saat masih sehat dan masih bisa berdiri diatas kedua kakinya. Ayahnya yang begitu gagah dan tampan. Alana tersenyum sendiri memandangnya. Akan tetapi rasa getir tiba tiba mengalir saat mengingat keadaan ayahnya kini. Alana memang tak pernah melihat Kian berdiri diatas kedua kakinya, karena saat ia sudah dapat mengenal dunia, ayahnya telah berada di atas kursi roda untuk bertahun lamanya.
“ suka dengan Westlife juga? “ sebuah suara mengejutkannya. Ia menoleh dan mendapati seorang laki – laki tengah memperhatikan foto yang sama. “ aku suka dengan lagu – lagu mereka, “
“ hanya mengingatkanku pada seseorang yang begitu berarti,” jawab Alana.
“ William. Boleh aku tau siapa namamu?”
“ Alana,” ucapnya sembari membalas uluran tangan William. “ kau pemilik cafe ini?”
“ sebenarnya bukan aku seorang. Ada kakakku juga,”
“ sepertinya kalian akan tutup. Aku akan segera pergi dari sini. Dimana aku bisa membayar pesananku?”
“ dekat piano itu. Mari aku antar,” ajak Will. Alana membayar semua pesanannya dan berpamitan pada William yang juga mengantarkannya hingga pintu keluar.
“ cafe yang unik dan menarik. Lain kali aku akan berkunjung kembali,”
“ kami akan senang saat kau datang kembali. Kabarkan dengan temanmu yang lain, ya” tutup William bersamaan dengan Alana yang meninggalkan cafenya. Hari yang cukup melelahkan.
**
William bukan tidak menyadari kehadiran gadis itu. Gadis yang sudah menarik perhatiannya sejak dulu. Dulu sekali, meski rambutnya tidak sepanjang saat ini. Gadis yang jauh dari kata feminim, namun kini begitu mempesona. Ia hanya tak yakin jika itu adalah Alana Egan. Lama tinggal di Inggris tak membuatnya melupakan Alana. Sosok yang berhasil mencuri hatinya. Berganti – ganti pasangan selama di Inggris dan cintanya tetap tersimpan apik untuk Alana, hanya Alana. Dan tebakannya benar saat Alana dengan penuh perasaan memandang foto band yang juga membesarkan nama salah satu ayah angkatnya yang nama belakangnya masih ia gunakan. William sudah bertemu dengan orang tuanya, namun, ia tak ingin menghilangkan nama seseorang yang sudah begitu berjasa menyelamatkan hidupnya. Tanpa kedua ayahnya, mungkin ia sudah terlunta lunta di jalanan, tanpa tau arah dan tujuan. Untuk itulah William berani mendekati Alana. Ia kembali ke Sligo untuk Alana.
**
William. Nama yang mengingatkan Alana pada seorang anak laki – laki yang selalu mengganggunya jika mereka bertemu dalam acara reuni keluarga Westlife. Sudah lama sekali, apa kabar William Feehily – Mcdaid. Dimana dia sekarang? Yang terakhir Alana ingat, William sedang berada di Inggris dan memutuskan untuk menetap disana. William yang begitu ceria dan mungkin ia bisa katakan, menyebalkan. Tidak ada kata tidak bertengkar jika mereka bertemu dan selalu William yang memulai semuanya. Hari yang melelahkan. Alana merebahkan tubuhnya untuk mengistirahatkan otot – ototnya yang tegang. Esok ia masih harus berlatih, dan itu butuh tenaga yang cukup. Tak menunggu lama, Alana sudah berlabuh di alam mimpi.
**
Alana telah bersiap dengan sepatu olahraganya untuk melakukan pemanasan pagi ini. Tak perlu jauh – jauh. Ia hanya akan berkeliling istal milik kakak tertuanya, Ciaran, yang terletak di halaman belakang rumahnya. Cukup luas, namun tak terlalu besar jika dibandingkan dengan milik pamannya Shane yang menularkan kecintaanya pada kuda kepada Ciaran.
“ selamat pagi, Maa,” sapanya pada Keavy yang mulai meracik adonan pancake untuk sarapan pagi ini.
“ selamat pagi, All. Akan berkeliling diluar?” tanyanya saat melihat putrinya telah bersiap untuk olahraga pagi.
“ tidak. Aku di istal saja. Sekalian melihat kekasih Kakak yang lain,” ucapnya sambil tersenyum. Keavy menanggapi geli ucapan putrinya. Soal meledek Ciaran didapat Alana dari Finnian, kakak ajaibnya yang paling dekat dengannya. Alana bergerak menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol air putih disana. “ Dadda mana? Tumben pagi – pagi belum terlihat,”
“ mencariku?” Kian muncul di pintu lift yang terletak tak jauh dari pantry. “ selamat pagi, All,”
“ pagi, Dadd. Aku ke istal dulu, ya” pamit Alana.
“ ia selalu bersemangat seperti dirimu,” ucap Kian pada Keavy saat Alana sudah tak terlihat lagi.
“ dan selalu berusaha melakukan yang terbaik sepertimu,” balas Keavy dan memberikan kecupan kecil pada Kian. “ aku akan membuatkan sarapan untuk kalian. Setelah itu aku akan membuat beberapa cup cake untuk ibu Sarah. Ciaran bilang mereka akan datang hari ini,”
“ tidak sedang bertugaskah mereka?”
“mungkin mengambil cuti. Kau tau, mereka harus meluangkan waktu bersama Ashley di tengah kesibukan mereka,”
“ selamat pagi semua,” sapaan hangat seorang laki – laki yang menggendong seorang putra datang dari pintu depan.
“ hai, Finn. Pagi sekali,” balas Kian pada Finnian yang sedikit kerepotan dengan bawaan Finnian yang sedang menggendong Colins. Seorang asisten rumah tangga mengambil barang bawaan Finnian.  “ apa dia masih tidur?”
“ ya, aku kamarku dulu untuk menidurkannya,”
“ sepertinya kau juga perlu beristirahat setelah konser semalam,” ucap Kian. Ia tau Finn sudah bekerja keras untuk mengatur konser salah satu artisnya di Dublin.
“ nanti saja setelah sarapan,” jawab Finn sambil berlalu menuju kamarnya di lantai dua.
Keavy masih berkutat dengan membuat sarapan sedangkan Kian menunggu di meja makan sembari membaca harian pagi dari tabletnya. Dibantu seorang asisten rumah tangga, Keavy mengatur sarapannya diatas meja makan.
“ Ally mana? Biasanya dia yang bantu,” tanya Finn saat ia kembali. Wajahnya terlihat lebih segar.
“ jogging di istal,” jawab Keavy singkat.
“ Dadd....” suara anak laki – laki dari lantai dua mengalihkan perhatian Finn. Dengan sigap ia berlari dan menggendong Colins untuk sarapan bersama.
“ hai Nanna, hai, Gramph,” sapa Colins saat bertemu dengan Kian dan Keavy.
“ selamat pagi, sayang. Sebentar sekali tidurmu,” sapa Keavy.
“ aku sudah tidur sejak di perjalanan kesini,” jawab Colin dengan nada malas karena matanya masih setengah terpejam. Ia menguap sekali.
“ sebaiknya kau temani Colins tidur sebentar lagi Finn. Aku rasa di merindukan tidur dengan ayahnya,” saran Kian.
“ Ayahmu benar. Pergilah,”. Finn berlalu meninggalkan keduanya dengan menggendong Colins yang tertidur di gendongannya. Kian memandangnya dengan nanar. Tinggal menunggu seorang anak dan menantunya datang bersama cucunya, dan lengkaplah keluarga mereka pagi ini. Akan lebih lengkap jika seorang lagi masih ada disini, di dunia ini. Pikirannya melayang pada ingatan tentang putranya yang dengan seluruh tenaganya berjuang melawan kanker darah yang dideritanya sejak kecil. Putranya yang luar biasa. Putranya yang juga mengikuti jejaknya sebagai seorang penyanyi ternama. Putranya, Kelly. Seakan mengetahui apa yang sedang difikirkan suaminya, Keavy menepuk dan mengusap bahu Kian perlahan.
“ Ki, sudahlah. Aku yakin Kelly bisa melihat apa yang kita alami saat ini dari sana dengan tersenyum. Percayalah,”
**


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS DWIJENDRA

AiRizki Melali #1 : Pantai Melasti, Uluwatu

AiRizki Melali #3 : Padang Bulia Waterfall , Buleleng