Zia ( sebuah cerpen )



“ Yaa Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Hamba datang kepada Engkau dengan diri yang penuh dosa. Diri yang ingin memohon ampun kepada Engkau Yang Maha Pengampun. Hamba ingin meminta kepada Engkau, di usia hamba yang semakin bertambah, dan jatah hidup hamba di dunia yang semakin berkurang, hamba mohon pada Engkau, agar Engkau pertemukan hamba dengan dia yang telah Engkau pilihkan untuk hamba sebagai pendamping hidup. Dengan dia yang memiliki kecintaan begitu besar pada Engkau dan pada Rasul Engkau. Labuhkanlah hati ini pada dia yang melabuhkan cintanya pada Engkau. Pada dia yang dapat menjadi imam bagi hamba yang buta. Yang dapat membimbing hamba menuju kecintaan pada Engkau. Dengan dia yang mana kami akan saling melengkapi kekurangan masing - masing. Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Mengetahui apa yang hamba inginkan dan apa yang hamba butuhkan. Hamba pasrahkan semuanya kepada Engkau. Apapun itu, hamba yakin bila itu adalah yang terbaik. Terima kasih untuk segala halyang telah terjadi dalam hidup hamba,”

**

Diam - diam gadis itu memperhatikannya. Ia yang sepertinya tengah terlibat pembicaraan yang serius dengan seorang temannnya. Sayup - sayup terdengar suara adzan yang menandakan wakhtu sholat dzuhur sudah tiba. Laki - laki itu bergegas bangkit dan meninggalkan kafetaria yang berada tak jauh dari mushola yang mengumandangkan adzan. Diapun ikut menuju mushola tersebut.
Masih berada dalam jarak pandangnya, laki - laki itu masuk melalui pintu jama’ah laki - laki, sedang dia sendiri segera mencari tempat berwudhu untuk wanita. Selintas terbersit dalam pikirannya, dosakah ia yang begitu memperhatikan laki - laki itu belakangan ini? Ia pun masih terus berusaha menjaga panadangannya pada laki - laki itu, namun, entah mengapa begitu sulit. Matanya seakan meminta terus tertuju padanya, bila ia berada disekitar. Namun, rasa rindu melanda kala sehari tak melihat wujudnya. Sosoknya, seakan begitu sempurna. Sungguh seorang laki - laki yang pasti menjadi idaman semua wanita, terlebih dirinya yang kini sedang dilanda kebimbangan tentang perkara jodoh. Usianya yang sudah dewasa, membuat orang tua terus mendesak agar ia segera menikah. Akan tetapi, sosok laki - laki yang akan menjadi pendampingnya tak kunjung ia temukan.
Usai berwudhu, ia memasuki musholla tersebut. Dikenakannya mukena yang ia bawa selalu dalam tasnya. Melakukan semua rukun sholat hingga berakhir dengan salam. Diangkatnya dua belah tangannya untuk meminta kepada sang Pencipta. Doa yang sama, dan doa yang selalu terulang dalam tiap ibadah yang dilakukannya. Meminta agar segera dipertemukan dengan laki - laki yang Allah siapkan untuk dirinya.
“ Assalamu’alaikum,” suara seorang wanita yang begitu lembut menyapa dirinya.
“ Wa alaikum salam. Eh, Nanda,”
“ sudah selesai sholat? “ tanya wanita itu.
“ sudah. Kamu baru datang? “
“ iya. Tumben kamu kesini. Biasanya dikantor aja,”
“ tadi lagi makan siang di warung depan. Sekalian aja mampir dulu. Mau pakai ini?” Zia menawarkan mukena miliknya.
“ nggak apa - apa. Aku pakai yang ada disini aja,” jawab Nanda sambil berjalan mencari tempat yang sedikit kosong. Zia memperbaiki kerudung yang ia kenakan, lalu beranjak meninggalkan musholla itu untuk kembali kekantor. Melewati bagian depan musholla, ia tak mendapati sosok Zaki, laki - laki yang selama ini dikaguminya ada disana. Sedikit kecewa merambat dalam dadanya, namun, tak dibiarkannya berlarut. Mungkin dia sudah kembali ke kantor lebih dulu.
**
“ abis makan siang dimana, bang?” sapa Afif, teman laki - laki yang cukup akrab dengannya.
“ bang, bang. Nggak liat nih kerudung? Ada gitu abang - abang pake kerudung?” sahut Zia ketus. Afif hanya tersenyum sambil memamerkan jajaran giginya yang terawat.
“ ada. Situ kan?” jawab Afif asal. Dengan cepat Zia mengambil majalah yang berada di dekatnya dan di gunakan untuk memukul Afif.
Bukan tanpa alasan Afif memanggil Zia dengan sebutan abang. Panggilan kesayangan, bisa dikatakan begitu. Afif dan Zia adalah teman masa sekolah dulu, saat Zia masih belum berjilbab dan tomboi. Waktu merubah dirinya. Lama tak berjumpa, ia akhirnya bertemu dengan Zia kembali di kantor yang sama namun berbeda bagian. Afif di bagian marketing, sedang Zia sebagai seorang Humas. Meski telah menggunakan jilbab, sifat tomboi masih sedikit terpatri di dalam diri Zia. Bukan cuma dengan alasan itu Afif memanggilnya seperti itu. Beberapa kali Zia memberinya nasihat saat ia tengah kebingungan, padahal usianya dibawah Afif. Tapi dengan cara seperti itu Afif menghargai Zia. Dan Zia tidak keberatan dipanggil seperti itu, meski menyalahi kodratnya sebagai seorang perempuan.
Sepeninggal Afif, Zia segera membereskan beberapa dokumen yang berserakan diatas meja kerjanya. Menyusun satu per satu pekerjaan mana yang harus ia dahulukan. Rekan satu kubikelnya, belum datang dari makan siangnya. Konsentrasinya sedikit buyar saat sosok yang tadi dicarinya di musholla tak nampak. Zaki melintas di depannya dan tersenyum padanya. Jantungnya langsung berdegup tak beraturan. Dengan gugup ia membalas senyumannya, namun, segera di palingkan pandangannya. Hanya karena tak ingin Zaki melihat pipinya yang kini bersemu merah.
“ jangan lupa ada pengajian sore ini, Zi,” ucap Nanda membuyarkan lamunannya.
“ oh ya? Jadwalnya hari ini ya?” Nanda hanya mengangguk dengan pertanyaan Zia.
“ sip. Kalau gitu aku langsung aja lah, nggak pulang dulu. Lagian macet. Kamu juga langsung?”
“ in shaa Allah aku pulang dulu. Lagian kost ku dekat dari kantor,”
**
Sore menjelang. Ruangan meeting mereka ubah menjadi sebuah majelis pengajian dengan Zaki sebagai pemimpinnya sore itu. Sesekali Zia memperhatikan Zaki yang dengan apik membawakan acara sore itu. Acara demi acara berlangsung dengan khidmat hingga waktu maghrib dan acara itu mereka akhiri dengan sholat maghrib berjama’ah.
Zia berada di basement bersama Afif. Namun, Afif lebih dulu meninggalkannya yang sedang memakai perlengkapan bermotornya. Gerakannya sengaja di perlambat demi menunggu Zaki turun dari kantor. Setelah lama menunggu sambil berpura - pura memainkan ponselnya, yang ditunggupun tiba. Zaki turun bersama Ferry, seorang temannya yang sangat sering bersamanya. Keremangan cahaya tidak membuat Zaki tak mengenali Zia yang sedang memperbaiki bentuk jaket yang ia kenakan.
“ Zi, belum pulang?” sapa Zaki
“ eh, Mas Zaki, Mas Ferry. Belum. Ini baru mau pulang,”
“ bukannya udah turun dari tadi ya? “ sambung Ferry.
“ iya tadi kakak telepon. Jadi ngobrol dulu. Nggak asih ngobrol sambil bawa motor,” jawab Zia.
“ kita duluan, ya,” pamit Zaki
“ hati - hati, Mas,” Zia berusaha keras mengontrol dugupan janungnya yang berdebar begitu hebatnya.
Ia kenal Zaki saat pindah ke kantor ini. Dikenalkan oleh Nanda yang sudah lebih dulu mengenal Zaki. Posisi Zaki di kantor bisa dibilang lebih tinggi dari Zia, atau dengan kata lain, Zaki adalah atasan Zia. Sejak awal pertemuannya, Zia sudah memiliki perasaan yang berbeda dengan Zaki. Beberapa kali terlibat kerja sama secara langsung, membuat Zia lebih mengenal soso Zaki yang begitu taat. Zaki dengan akhlaqnya yang baik, serta ilmu agamanya yang cukup, membuat Zaki pantas menjadi idaman wanita masa kini.
Motor Zaki dan Ferry sudah meninggalkannya sejak tadi, namun, Zia masih mengatur nafasnya. Debaran jantung yang berdetak begitu cepat membuat Zia sesak. Setelah benar - benar tenang, barulah Zia meninggalkan gedung itu untuk kembali kerumah.
**
Bayangan wajah Zaki masih terus berputar di kepala Zia. “Astaghfirullah,” ucap Zia dalam hati. Tak sepatutnya ia seperti itu. Segera ia mengambil wudhu, bersimpuh menghadap-Nya.
“ Ya Allah, jika memang dia adalah laki – laki yang telah Engkau siapkan untuk hambamu yang sakan telah letih menunggu, hamba hanya ingin meminta kepada Engkau, agar Engkau permukan kami dengan cara yang terbaik. Cara terbaik yang tak pernah hamba ataupun dia duga sebelumnya. Persatukanlah kami dalam sebuah hubungan halal yang akan Engkau saksikan, Ya Allah. Namun, bilapun memang dia bukan untuk hamba, maka, hamba mohonkan kepada Engkau, agar Engkau angkat rasa yang kini tertanam dihati. Hilangkanlah segala perasaan padanya hingga tanpa bekas. Ikhlaskanlah hati ini untuk menerima segala ketetapan Engkau, Ya Allah. Janganlah Engkau takdirkan hamba menjadi pribadi yang terpuruk dan melupakan Engkau, ketika musibah itu tiba. Hanya kepada Engkau hamba meminta dan memohon pertolongan. Ammiin,” perasaan Zia jauh lebih lega. Tak ada lagi rasa yang mengganjal dihati. Hanya saja, kini ia penasaran tentang perasaan Zaki padanya . Apakah Zaki merasakan hal yang sama? Akh tapi biarlah itu menjadi rahasia Sang Pemilik Hati yang sesungguhnya. Hingga saatnya nanti, ia akan mengetahui semua jawabannya.
**
“ bang minta data customer yang kemaren donk,” ucap Afif saat Zia sedang menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena ia cuti beberapa hari kemarin.
“bentaran ya? Agak siang nggak apa – apa kan?”
“ sip. Nggak apa. Kenapa muka nggak enak gitu diliatnya?”
“biasa aja,” jawab Zia datar, meski ia tau Afif tidak akan berhenti sampai disitu.
“yakin nggak apa – apa?”
“yakin lah. Emang keliatan nggak yakin?”
“kalo keliatan yakin nggak mungkin ditanyain kali, Bang,” disaat yang sama, Riana melintas dihadapan mereka berdua. Pandangannya terasa aneh, dan sedikit menusuk seperti cemburu. Zia tau, Afif sedang mengejar cinta Riana, dan ia juga tau bahwa Riana adalah seorang pencemburu.
“udah aku save di folder customer new. Nih flash disknya. Buruan dikejar, nanti malah tambah manyun,”
“siapa? Riana? Biarin aja. Nanti juga baik sendiri. Belum ada hubungan apa – apa juga,”
“ yakin? Kemarin boncengan berdua, mau kemana?”
“boncengan doank kan biasa, Bang. Lagian cuma nganter pulang aja, kok,”
“biasa kalo orang lain yang liat. Kalo aku, beda. Udah buruan dilamar, kasian perasaan anak orang kamu gantungin gitu,”
“lamar apaan? Jadian aja belum. Maksa orang buat lamar anak orang, situ udah ada yang ngelamar belum? Kemaren pulang kampung pasti nerima lamaran ya?” kata – kata itu muncul dari mulut Afif bersama dengan Zaki yang melintas. Zia cukup terkejut dengan hal itu. Zaki tersemyum simpul saat melewatinya. Sepertinya dia mendengar apa yang dikatakan Afif barusan. Zia merasa tidak enak. Ia tak ingin Zaki berfikir macam – macam. Tapi, apa haknya melarang Zaki untuk berfikir seperti itu? Lagipula Zaki tidak memiliki hubungan yang spesial dengannya.
Afif menyadari perubahan wajah Zia saat Zaki lewat. Terlebih dengan kata – kata yang ia ucapkan sepertinya membuat Zia tidak nyaman.
“ kamu naksir sama Zaki, bang?” suara Afif cukup keras terdengar bahkan hingga ke ujung lorong.
“ssstttt” spontan Zia meminta Afif untuk mengecilkan suaranya. Afif hanya tertawa sambil berlalu meninggalkan Zia.
**
Waktu berlalu. Kedekatan Zia dengan Zaki semakin terjalin. Semua tak lepas dari bantuan Afif yang Zia sendiri tak pernah memintanya untuk melakukan itu. Afif hanya mengatakan jika ia lakukan itu semua karena Zia sudah membantunya mendekatkan dengan Riana, hingga akhirnya mereka akan menyusun rencana pernikahan mereka. Sungguh Zia membantunya karena tau mereka berdua sama – sama memendam rasa. Hanya saja beberapa kali Zia meminta mereka untuk segera mengesahkan hubungan mereka, mereka masih menunda.
“menurut kamu, kalo aku bilang duluan, gimana?” curhat Zia pada Afif disuatu siang.
“menurutku sih, nggak pas aja. Masa’ cewek nyatain duluan. Kalo dia emank beneran suka juga sama kamu, ya dia bakal bilang. Sabarlah, Bang,”
“tapi udah lama aku deket sama dia, nggak ada tanda – tanda dia mau ngungkapin,”
“emank orang macam Zaki kenal sama namanya pacaran?”
“entahlah,”
“tapi kalo kamu tetep mau ungkapin apa yang kamu rasain sama dia untuk menyakinkan hati kamu, ya, aku cuma bisa pesan satu hal aja. Jangan kecewa yang terlalu berat kalo ternyata jawaban yang dia kasih nggak sesuai sama harapan kamu,” ucap Afif serius. Tak ada jawaban dari Zia. Pikirannya masih berputar ulang untuk mempertimbangkan langkah apa yang akan ia ambil....
**
Zia memandang Nanda yang begitu sumringah pagi ini. Pipinya bersemu merah, tak seperti biasanya. Seperti orang yang tengah tersipu malu. Dibelakangnya ada Zaki bersama Ferry. Pun dengan Zaki yang nampak begitu bahagia hari ini. Ada apa dengan mereka? Zia semakin penasaran, karena dari gelagatnya, sepertinya Afif mengetahui sesuatu. Tentang Zaki dan Nanda. Kecurigaan Zia bukan tanpa alasan. Zaki yang biasanya baik – baik dan senang saja jika Zia menceritakan isi hatinya terkait Zaki, kini seperti menghindar. Afif seperti menjaga jarak dengan Zia. Riana yang ia ingin mintai keterangan tentang perubahan sikap Zaki pun, bersikap seolah – olah ia tak mengetahui apapun.
Hal seperti itu berlangsung hampir seminggu. Zia sudah tidak tahan. Ia harus mengetahui tentang kejanggalan yang terjadi belakangan ini. Tepat saat ia akan bangkit dari duduknya, Nanda datang menghampiri. Membawa sebuah undangan berwarna hijau muda berbalut pita berwarna senada. Undangan yang begitu sederhana, namun, inisial nama yang terpatri disana begitu bermakna. Zia masih belum percaya saat menerima undangan itu. Untuk meyakinkannya, Zia membuka pita pengikatnya. Dan benar dugaannya. Nama Zaki ada disana. Zaki akan bersanding dengan Nanda. Dan itu akan terjadi dua hanya seminggu dari sekarang.
Seluruh tenaga Zia seakan runtuh. Ia langsung terduduk lemah. Air mata yang akan menetes berusaha ia tahan dengan sebuah senyuman seikhlas yang ia bisa. Hari ini, waktu seakan berlalu begitu lambat. Wajah bahagia Nanda seakan tak berhenti lalu – lalang dihadapannya. Pekerjaannya menjadi kurang fokus. Ia harus mengerjakan satu pekerjaan yang sama berulang – ulang. Pikirannya melayang entah kemana. Zia tak menyalahkan waktu dan rasa yang hadir. Waktu yang mempertemukan mereka dan rasa yang perlahan tumbuh dihati Zia seorang. Karena jika menyalahkan keduanya, sama saja Zia menyalahkan Tuhan yang telah mengatur semuanya. Zia tak menyalahkan Afif yang mendekatkannya dengan Zaki, karena itu hanyalah salah satu cara Afif untuk menyenangkan hatinya, meski Afif tau, Zaki tak memendam rasa yang sama. Tak pula ia menyalahkan Zaki atau Nanda, karena yang hadir diantara mereka adalah berkah yang mungkin tak pernah mereka duga. Ia hanya menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu larut dengan harapan kosong yang ia bangun sendiri. Harapan tentang indahnya bila mendapat sosok sesempurna Zaki. Nanda lebih pantas mendampingi Zaki.
Sepulang kantor, Zia tidak langsung pulang. Ia menuju sebuah pantai yang tak ramai orang berkunjung. Pantai yang sering menjadi pelepas sedihnya, sendiri. Menikmati matahari yang perlahan kembali keperaduannya untuk beberapa saat dan bersinar kembali di belahan bumi yang lain. Baru sebentar ia duduk disana, seseorang menghampirinya dan duduk disebelahnya.
“aku minta maaf, Mbak,” ucap Afif.
“tumben banget kamu panggil aku Mbak?” Afif hanya membalas dengan senyum.
“dimaafin nggak?”
“kamu minta maaf buat apa? Memangnya kamu punya salah?”
“ngerasa salah aja, karena udah ngedeketin kamu sama Zaki. Meskipun sejak awal aku udah tau kenyataannya. Ngerasa jahat aja,”
“ngerasa jahatnya setelah aku tau kenyataannya kayak gini?”
“waktu kamu bilang mau ungkapin, kan aku udah bilang, jangan terlalu kecewa kalo tau kenyataannya,”
“ya kenapa nggak sekalian bilang kenyataannya waktu itu?”
“karena kalo aku yang bilang, kamu nggak akan percaya dan tetep akan ngotot kan mau bilang perasaan kamu sama dia? Aku tau kamu, Mbak,”
“tapi, paling nggak aku nggak akan terlalu berharap,”
“yakin, kalo aku bilang waktu itu kamu nggak terlalu berharap? Kalo aku sih nggak yakin,” Zia tak menjawab. Afif seperti tau apa yang ada dipikiran Zia. Kemungkinan yang akan Zia lakukan, Afif bisa menduganya. Afif begitu mengenal Zia, maka ia hanya ingin membuat Zia bahagia. Meskipun harus berbohong padanya.
“dimaafin nggak?” tanya Afif.
“ memangnya aku ada bilang kamu punya salah?”
“ ya, kali aja. Oh ya, ada yang mau ngobrol kayaknya,” Afif menoleh kebelakang. Mengisyaratkan pada seseorang yang sedang menunggu agak jauh dari tempatnya saat ini untuk mendekat. Dua orang itu nampak berjalan mendekat dan duduk disisi lain dari Zia.
“kalian rombongan kesini?” tanya Zia, mencoba mengesampingkan rasa kecewa dan sedihnya saat melihat Zaki dan Nanda yang datang.
“nggak kok, Zi. Cuma bertiga aja. Itu juga aku yang minta ikut sama Afif,” jawab Nanda. Zia tak menjawab. Keheningan tercipta diantara mereka.
“aku sama Mas Zaki mau minta maaf sama kamu, Zi,” ucap Nanda membuka pembicaraan.
“buat apa?”
“Afif udah bilang semuanya sama kita. Bahkan Mas Zaki sudah tau, tapi dia mau bicara masih belum dapat waktu yang tepat,”
“dan surat undangan kalian yang bicara sama aku,”
“untuk itu kami kesini. Jujur aku juga baru tau siang tadi. Waktu sholat dzuhur, biasanya, kamu duduk – duduk dulu. Tapi begitu aku datang, kamu langsung pergi. Pulang kantor, yang biasanya kamu ceria, kamu selalu pamitan sama aku, hari ini nggak. Aku tanya Riana, dia bilang tanya Afif. Aku tanya Afif, awalnya dia nggak mau bilang. Setelah Mas Zaki datang, Afif baru ceritain semuanya,” jelas Nanda. Zia tak bergeming, hanya mendengarkan apa yang Nanda ucapkan. “ Rasa ini, sama seperti kamu. Aku juga nggak pernah menduga jika aku jatuh hati pada Mas Zaki. Kami saling dekat pun, masih terbilang baru. Bakti sosial yang diadakan di musholla dekat kantor itulah yang kemudian mendekatkan kami. Rencana Allah, semua tidak bisa manusia duga. Mas Zaki datang kerumah dan mengkhitbahku, hingga kami merencakan pernikahan kami,” Zia tetap tak bersuara.
“aku minta maaf karena akhirnya kamu merasa aku memberi harapan sama kamu. Karena sebenarnya, aku hanya ingin berteman denganmu. Tak ada perasaan apapun. Rasa yang berbeda hadir saat aku dekat dengan Nanda. Dan aku hanya tidak ingin membiarkan perasaan itu berlanjut dengan nafsu. Aku memutuskan berta’aruf dengannya, hingga mengkhitbahnya. Aku minta maaf atas semua itu,” Zaki akhirnya buka suara saat Zia tak juga memberikan jawaban.
“Saat rasa yang hadir diantara kalian berasal dari Sang Maha Cinta, apa aku pantas untuk menentangnya? Karena seberapa kuat pun aku memaksakan perasaan ini, semuanya tidak akan berujung pada bersatunya aku dan kamu. Karena rasa itu hanya tumbuh padaku. Tapi rasamu, adalah untuknya. Dan berkah Allah ada disana. Aku tidak pernah menyalahkan siapapun dan apapun yang terjadi. Hanya saja, semua yang begitu tiba – tiba membuat kecewa yang cukup dalam. Aku tidak berhak marah, aku tidak berhak atas rasa yang kamu miliki,” ucap Zia setelah keheningan tercipta diantara mereka cukup lama.
Semua terkejut dengan penerimaan Zia. Tak ada yang menyangka Zia akan berkata seperti itu. Terlebih Afif. Ia tau Zia seperti apa, namun, sore ini, ia tak menemukan Zia yang emosional. Zia yang ia lihat hari ini, jauh lebih dewasa dari yang ia tau. Dalam hati, Afif berucap syukur.
**
Berbulan berlalu. Kecewa yang sempat singgah sudah tak berbekas. Hubungannya dengan Nanda baik – baik saja. Sungguh Zia tak menyimpan amarah pada keduanya. Zaki sudah tidak dikantor itu lagi. Karena menikah dengan Nanda, Zaki berhenti dari pekerjaannya dan sudah diterima di perusahaan lain. Afif dan Riana juga sudah melangsungkan pernikahan mereka meski melalui perjuangan yang cukup sulit. Orang tua Riana awalnya menolak Afif dengan alasan yang menurut Afif tidak masuk akal, namun, Afif enggan menceritakannya pada Riana. Sama seperti Zaki – Nanda, Afif dan Riana, salah satunya pun mengundurkan diri. Bukan Afif, karena dia sedang dipromosikan untuk naik jabatan. Riana memilih untuk membantu Afif dari rumah saja. Ia mengundurkan diri dan membuka usaha kecil – kecilan.
Sedang Zia, masih sendiri. Menikmati waktunya selagi ia masih seorang diri. Afif beberapa kali mencoba mendekatkannya dengan seseorang, namun, dalam beberapa kesempatan bekerja dalam satu team dengan Ferry, membuat semuanya seperti berbeda. Afif dapat membacanya, gelagat Zia, dan tingkah Ferry. Ia tau apa yang harus ia lakukan. Rencana mulai disusun, sebuah pertemuan awal untuk pembicaraan lebih serius di rumah Afif. Dengan beralasan Riana membutuhkan model untuk jenis baju yang baru saja dibuatnya, akhirnya mereka berdua berhasil diundang untuk datang.
Hari yang ditentukan tiba. Zia datang lebih dulu dari Ferry. Berbasa – basi sebentar, sesi pemotretan dilakukan. Beberapa model baju dibawakan Zia. Dengan background seadanya, Zia melakukannya dengan maksimal. Ferry datang berselang waktu setengah jam. Zia masih melalukan sesi pemotretannya dan Ferry tak lepas memandangnya. Segera setelah sadar, ia lalu beristighfar dan mengalihkan pandangannya. Sembari menunggu, ia ditemani Afif mengobrol di teras depan. Tak lama kemudian, Zia selesai melakukan tugasnya dan cukup terkejut dengan kehadiran Ferry disana. Afif tidak mengatakan pada Zia jika dia mengundang Ferry, namun, ia sudah memberitahu Ferry bahwa akan ada Zia nantinya.
“Mas Ferry, kenapa bisa ada disini juga?” tanya Zia.
“dapat undangan dari Afif,” jawabnya singkat.
“duduk, Mbak,” Afif mempersilahkan Zia duduk karena melihat Zia sedari tadi berdiri. “ Ri, temani aku disini,” panggil Afif pada Riana.
“aku langsung aja, ya. Sebenarnya ada hal lain selain alasan yang aku bilang ke kalian waktu aku undang kesini,” Afif membuka pembicaraan saat Riana sudah duduk disebelahnya. Zia nampak bingung, sedang Ferry terlihat biasa saja. “gini. Mbak Zia dan Mas Ferry kan sama – sama sudah dewasa, sama – sama sudah mandiri, dan sama – sama masih sendiri,” Afif menarik nafas sejenak. “ saya, Afif, mewakili Mas Ferry bermaksud menanyakan hal yang agak sensitif sama Mbak Zia,”
“buruan deh, Fif. Nggak biasanya kamu muter – muter ngomongnya,” Zia nampak tak sabar.
“sabar, Mbak. Begini, Mas Ferry bermaksud menanyakan apakah sudah ada orang yang menarik hati Mbak Zia? Karena Mas Ferry bermaksud untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius dengan Mbak Zia,”ucap Afif. Zia terkejut dengan apa yang Afif katakan. Benarkah yang Afif katakan?
“bener, Mas Ferry?” Zia mencoba meyakinkan dirinya dengan menanyakan langsung pada Ferry. Ferry hanya balas mengangguk dengan tersipu. “ kenapa nggak bilang langsung sendiri, Mas?”
“karena aku belum punya cukup keberanian untuk memintanya. Aku tidak seberani Zaki yang langsung menanyakan pada Nanda. Aku butuh meyakinkan diriku sendiri, dan kamu,”
“lalu, saat ini, apakah Mas Ferry sudah yakin?” tanya Zia lagi. Ferry terdiam sejenak. Ia menarik nafas dalam lalu....
“Bismillahirrohmanirrohim. Aku yakin dengan pilihanku. Sholat istkharah yang aku lakukan berujung pada jawaban yaitu rasa yang dihadirkan Sang Maha Cinta padaku untukmu. Bila kamu berkenan izinkanlah rasa ini menjadi halal nantinya untuk aku nikmati. Aku tak akan memaksa, bilapun kamu tidak menerima. Karena aku yakin, segala ketetapan-Nya, itulah yang terbaik untukku,”
“izinkan rasa ini juga menjadi halal. Datanglah kerumah dan bertemu Ayah,” jawaban singkat dari Zia melegakan Ferry. Alhamdulillah, ucapan syukur mengalir begitu saja.
**
“ Alhamdulillahirobbil’alamin. Terima kasih pada-Mu, Ya Allah. Engkau Maha Mendengar segala doa. Engkau memberi disaat kami membutuhkan. Terima kasih telah Engkau hadirkan cinta itu. Cinta pada orang yang berbeda diwaktu yang berbeda. Engkau kenalkan pada hamba tentang kecewa, untuk kemudian Engkau berikan pada hamba bahagia yang begitu indah. Terima kasih telah Engkau pertemukan kami, mempersatukan kami dalam sebuah ikrar suci. Terima kasih telah Engkau hadirkan dia dalam hidup ini. Dia yang berdiri dihadapan hamba untuk menjadi imam sholat hamba. Terima kasih telah Engkau lengkapi kehidupan hamba. Terima kasih, Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS DWIJENDRA

AiRizki Melali #1 : Pantai Melasti, Uluwatu

AiRizki Melali #3 : Padang Bulia Waterfall , Buleleng