Zia ( sebuah cerpen )
“ Yaa Allah, Yang Maha
Pengasih Lagi Maha Penyayang. Hamba datang kepada Engkau dengan diri yang penuh
dosa. Diri yang ingin memohon ampun kepada Engkau Yang Maha Pengampun. Hamba
ingin meminta kepada Engkau, di usia hamba yang semakin bertambah, dan jatah
hidup hamba di dunia yang semakin berkurang, hamba mohon pada Engkau, agar
Engkau pertemukan hamba dengan dia yang telah Engkau pilihkan untuk hamba
sebagai pendamping hidup. Dengan dia yang memiliki kecintaan begitu besar pada
Engkau dan pada Rasul Engkau. Labuhkanlah hati ini pada dia yang melabuhkan
cintanya pada Engkau. Pada dia yang dapat menjadi imam bagi hamba yang buta.
Yang dapat membimbing hamba menuju kecintaan pada Engkau. Dengan dia yang mana
kami akan saling melengkapi kekurangan masing - masing. Engkau Maha Mendengar,
Engkau Maha Mengetahui apa yang hamba inginkan dan apa yang hamba butuhkan.
Hamba pasrahkan semuanya kepada Engkau. Apapun itu, hamba yakin bila itu adalah
yang terbaik. Terima kasih untuk segala halyang telah terjadi dalam hidup
hamba,”
**
Diam - diam gadis itu memperhatikannya. Ia yang sepertinya
tengah terlibat pembicaraan yang serius dengan seorang temannnya. Sayup - sayup
terdengar suara adzan yang menandakan wakhtu sholat dzuhur sudah tiba. Laki -
laki itu bergegas bangkit dan meninggalkan kafetaria yang berada tak jauh dari
mushola yang mengumandangkan adzan. Diapun ikut menuju mushola tersebut.
Masih berada dalam jarak pandangnya, laki - laki itu masuk
melalui pintu jama’ah laki - laki, sedang dia sendiri segera mencari tempat
berwudhu untuk wanita. Selintas terbersit dalam pikirannya, dosakah ia yang
begitu memperhatikan laki - laki itu belakangan ini? Ia pun masih terus
berusaha menjaga panadangannya pada laki - laki itu, namun, entah mengapa
begitu sulit. Matanya seakan meminta terus tertuju padanya, bila ia berada
disekitar. Namun, rasa rindu melanda kala sehari tak melihat wujudnya.
Sosoknya, seakan begitu sempurna. Sungguh seorang laki - laki yang pasti
menjadi idaman semua wanita, terlebih dirinya yang kini sedang dilanda
kebimbangan tentang perkara jodoh. Usianya yang sudah dewasa, membuat orang tua
terus mendesak agar ia segera menikah. Akan tetapi, sosok laki - laki yang akan
menjadi pendampingnya tak kunjung ia temukan.
Usai berwudhu, ia memasuki musholla tersebut. Dikenakannya
mukena yang ia bawa selalu dalam tasnya. Melakukan semua rukun sholat hingga
berakhir dengan salam. Diangkatnya dua belah tangannya untuk meminta kepada sang
Pencipta. Doa yang sama, dan doa yang selalu terulang dalam tiap ibadah yang
dilakukannya. Meminta agar segera dipertemukan dengan laki - laki yang Allah
siapkan untuk dirinya.
“ Assalamu’alaikum,” suara seorang wanita yang begitu lembut
menyapa dirinya.
“ Wa alaikum salam. Eh, Nanda,”
“ sudah selesai sholat? “ tanya wanita itu.
“ sudah. Kamu baru datang? “
“ iya. Tumben kamu kesini. Biasanya dikantor aja,”
“ tadi lagi makan siang di warung depan. Sekalian aja mampir
dulu. Mau pakai ini?” Zia menawarkan mukena miliknya.
“ nggak apa - apa. Aku pakai yang ada disini aja,” jawab
Nanda sambil berjalan mencari tempat yang sedikit kosong. Zia memperbaiki
kerudung yang ia kenakan, lalu beranjak meninggalkan musholla itu untuk kembali
kekantor. Melewati bagian depan musholla, ia tak mendapati sosok Zaki, laki -
laki yang selama ini dikaguminya ada disana. Sedikit kecewa merambat dalam
dadanya, namun, tak dibiarkannya berlarut. Mungkin dia sudah kembali ke kantor
lebih dulu.
**
“ abis makan siang dimana, bang?” sapa Afif, teman laki -
laki yang cukup akrab dengannya.
“ bang, bang. Nggak liat nih kerudung? Ada gitu abang - abang
pake kerudung?” sahut Zia ketus. Afif hanya tersenyum sambil memamerkan jajaran
giginya yang terawat.
“ ada. Situ kan?” jawab Afif asal. Dengan cepat Zia mengambil
majalah yang berada di dekatnya dan di gunakan untuk memukul Afif.
Bukan tanpa alasan Afif memanggil Zia dengan sebutan abang.
Panggilan kesayangan, bisa dikatakan begitu. Afif dan Zia adalah teman masa
sekolah dulu, saat Zia masih belum berjilbab dan tomboi. Waktu merubah dirinya.
Lama tak berjumpa, ia akhirnya bertemu dengan Zia kembali di kantor yang sama
namun berbeda bagian. Afif di bagian marketing, sedang Zia sebagai seorang
Humas. Meski telah menggunakan jilbab, sifat tomboi masih sedikit terpatri di
dalam diri Zia. Bukan cuma dengan alasan itu Afif memanggilnya seperti itu.
Beberapa kali Zia memberinya nasihat saat ia tengah kebingungan, padahal
usianya dibawah Afif. Tapi dengan cara seperti itu Afif menghargai Zia. Dan Zia
tidak keberatan dipanggil seperti itu, meski menyalahi kodratnya sebagai
seorang perempuan.
Sepeninggal Afif, Zia segera membereskan beberapa dokumen
yang berserakan diatas meja kerjanya. Menyusun satu per satu pekerjaan mana
yang harus ia dahulukan. Rekan satu kubikelnya, belum datang dari makan
siangnya. Konsentrasinya sedikit buyar saat sosok yang tadi dicarinya di
musholla tak nampak. Zaki melintas di depannya dan tersenyum padanya.
Jantungnya langsung berdegup tak beraturan. Dengan gugup ia membalas
senyumannya, namun, segera di palingkan pandangannya. Hanya karena tak ingin
Zaki melihat pipinya yang kini bersemu merah.
“ jangan lupa ada pengajian sore ini, Zi,” ucap Nanda
membuyarkan lamunannya.
“ oh ya? Jadwalnya hari ini ya?” Nanda hanya mengangguk
dengan pertanyaan Zia.
“ sip. Kalau gitu aku langsung aja lah, nggak pulang dulu.
Lagian macet. Kamu juga langsung?”
“ in shaa Allah aku pulang dulu. Lagian kost ku dekat dari
kantor,”
**
Sore menjelang. Ruangan meeting mereka ubah menjadi sebuah
majelis pengajian dengan Zaki sebagai pemimpinnya sore itu. Sesekali Zia
memperhatikan Zaki yang dengan apik membawakan acara sore itu. Acara demi acara
berlangsung dengan khidmat hingga waktu maghrib dan acara itu mereka akhiri
dengan sholat maghrib berjama’ah.
Zia berada di basement bersama Afif. Namun, Afif lebih dulu
meninggalkannya yang sedang memakai perlengkapan bermotornya. Gerakannya
sengaja di perlambat demi menunggu Zaki turun dari kantor. Setelah lama
menunggu sambil berpura - pura memainkan ponselnya, yang ditunggupun tiba. Zaki
turun bersama Ferry, seorang temannya yang sangat sering bersamanya. Keremangan
cahaya tidak membuat Zaki tak mengenali Zia yang sedang memperbaiki bentuk
jaket yang ia kenakan.
“ Zi, belum pulang?” sapa Zaki
“ eh, Mas Zaki, Mas Ferry. Belum. Ini baru mau pulang,”
“ bukannya udah turun dari tadi ya? “ sambung Ferry.
“ iya tadi kakak telepon. Jadi ngobrol dulu. Nggak asih
ngobrol sambil bawa motor,” jawab Zia.
“ kita duluan, ya,” pamit Zaki
“ hati - hati, Mas,” Zia berusaha keras mengontrol dugupan
janungnya yang berdebar begitu hebatnya.
Ia kenal Zaki saat pindah ke kantor ini. Dikenalkan oleh
Nanda yang sudah lebih dulu mengenal Zaki. Posisi Zaki di kantor bisa dibilang
lebih tinggi dari Zia, atau dengan kata lain, Zaki adalah atasan Zia. Sejak
awal pertemuannya, Zia sudah memiliki perasaan yang berbeda dengan Zaki.
Beberapa kali terlibat kerja sama secara langsung, membuat Zia lebih mengenal
soso Zaki yang begitu taat. Zaki dengan akhlaqnya yang baik, serta ilmu
agamanya yang cukup, membuat Zaki pantas menjadi idaman wanita masa kini.
Motor Zaki dan Ferry sudah meninggalkannya sejak tadi, namun,
Zia masih mengatur nafasnya. Debaran jantung yang berdetak begitu cepat membuat
Zia sesak. Setelah benar - benar tenang, barulah Zia meninggalkan gedung itu
untuk kembali kerumah.
**
Bayangan wajah
Zaki masih terus berputar di kepala Zia. “Astaghfirullah,” ucap Zia dalam hati.
Tak sepatutnya ia seperti itu. Segera ia mengambil wudhu, bersimpuh
menghadap-Nya.
“ Ya Allah, jika memang dia adalah laki – laki yang
telah Engkau siapkan untuk hambamu yang sakan telah letih menunggu, hamba hanya
ingin meminta kepada Engkau, agar Engkau permukan kami dengan cara yang
terbaik. Cara terbaik yang tak pernah hamba ataupun dia duga sebelumnya.
Persatukanlah kami dalam sebuah hubungan halal yang akan Engkau saksikan, Ya
Allah. Namun, bilapun memang dia bukan untuk hamba, maka, hamba mohonkan kepada
Engkau, agar Engkau angkat rasa yang kini tertanam dihati. Hilangkanlah segala
perasaan padanya hingga tanpa bekas. Ikhlaskanlah hati ini untuk menerima
segala ketetapan Engkau, Ya Allah. Janganlah Engkau takdirkan hamba menjadi
pribadi yang terpuruk dan melupakan Engkau, ketika musibah itu tiba. Hanya
kepada Engkau hamba meminta dan memohon pertolongan. Ammiin,” perasaan Zia jauh
lebih lega. Tak ada lagi rasa yang mengganjal dihati. Hanya saja, kini ia
penasaran tentang perasaan Zaki padanya . Apakah Zaki merasakan hal yang sama?
Akh tapi biarlah itu menjadi rahasia Sang Pemilik Hati yang sesungguhnya.
Hingga saatnya nanti, ia akan mengetahui semua jawabannya.
**
“ bang minta data customer yang kemaren donk,” ucap
Afif saat Zia sedang menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena ia cuti
beberapa hari kemarin.
“bentaran ya? Agak siang nggak apa – apa kan?”
“ sip. Nggak apa. Kenapa muka nggak enak gitu
diliatnya?”
“biasa aja,” jawab Zia datar, meski ia tau Afif
tidak akan berhenti sampai disitu.
“yakin nggak apa – apa?”
“yakin lah. Emang keliatan nggak yakin?”
“kalo keliatan yakin nggak mungkin ditanyain kali,
Bang,” disaat yang sama, Riana melintas dihadapan mereka berdua. Pandangannya
terasa aneh, dan sedikit menusuk seperti cemburu. Zia tau, Afif sedang mengejar
cinta Riana, dan ia juga tau bahwa Riana adalah seorang pencemburu.
“udah aku save di folder customer new. Nih flash
disknya. Buruan dikejar, nanti malah tambah manyun,”
“siapa? Riana? Biarin aja. Nanti juga baik sendiri.
Belum ada hubungan apa – apa juga,”
“ yakin? Kemarin boncengan berdua, mau kemana?”
“boncengan doank kan biasa, Bang. Lagian cuma
nganter pulang aja, kok,”
“biasa kalo orang lain yang liat. Kalo aku, beda.
Udah buruan dilamar, kasian perasaan anak orang kamu gantungin gitu,”
“lamar apaan? Jadian aja belum. Maksa orang buat
lamar anak orang, situ udah ada yang ngelamar belum? Kemaren pulang kampung
pasti nerima lamaran ya?” kata – kata itu muncul dari mulut Afif bersama dengan
Zaki yang melintas. Zia cukup terkejut dengan hal itu. Zaki tersemyum simpul
saat melewatinya. Sepertinya dia mendengar apa yang dikatakan Afif barusan. Zia
merasa tidak enak. Ia tak ingin Zaki berfikir macam – macam. Tapi, apa haknya
melarang Zaki untuk berfikir seperti itu? Lagipula Zaki tidak memiliki hubungan
yang spesial dengannya.
Afif menyadari perubahan wajah Zia saat Zaki lewat.
Terlebih dengan kata – kata yang ia ucapkan sepertinya membuat Zia tidak
nyaman.
“ kamu naksir sama Zaki, bang?” suara Afif cukup
keras terdengar bahkan hingga ke ujung lorong.
“ssstttt” spontan Zia meminta Afif untuk mengecilkan
suaranya. Afif hanya tertawa sambil berlalu meninggalkan Zia.
**
Waktu berlalu. Kedekatan Zia dengan Zaki semakin
terjalin. Semua tak lepas dari bantuan Afif yang Zia sendiri tak pernah
memintanya untuk melakukan itu. Afif hanya mengatakan jika ia lakukan itu semua
karena Zia sudah membantunya mendekatkan dengan Riana, hingga akhirnya mereka
akan menyusun rencana pernikahan mereka. Sungguh Zia membantunya karena tau
mereka berdua sama – sama memendam rasa. Hanya saja beberapa kali Zia meminta
mereka untuk segera mengesahkan hubungan mereka, mereka masih menunda.
“menurut kamu, kalo aku bilang duluan, gimana?”
curhat Zia pada Afif disuatu siang.
“menurutku sih, nggak pas aja. Masa’ cewek nyatain
duluan. Kalo dia emank beneran suka juga sama kamu, ya dia bakal bilang.
Sabarlah, Bang,”
“tapi udah lama aku deket sama dia, nggak ada tanda
– tanda dia mau ngungkapin,”
“emank orang macam Zaki kenal sama namanya pacaran?”
“entahlah,”
“tapi kalo kamu tetep mau ungkapin apa yang kamu
rasain sama dia untuk menyakinkan hati kamu, ya, aku cuma bisa pesan satu hal
aja. Jangan kecewa yang terlalu berat kalo ternyata jawaban yang dia kasih
nggak sesuai sama harapan kamu,” ucap Afif serius. Tak ada jawaban dari Zia.
Pikirannya masih berputar ulang untuk mempertimbangkan langkah apa yang akan ia
ambil....
**
Zia memandang Nanda yang begitu sumringah pagi ini.
Pipinya bersemu merah, tak seperti biasanya. Seperti orang yang tengah tersipu
malu. Dibelakangnya ada Zaki bersama Ferry. Pun dengan Zaki yang nampak begitu
bahagia hari ini. Ada apa dengan mereka? Zia semakin penasaran, karena dari
gelagatnya, sepertinya Afif mengetahui sesuatu. Tentang Zaki dan Nanda. Kecurigaan
Zia bukan tanpa alasan. Zaki yang biasanya baik – baik dan senang saja jika Zia
menceritakan isi hatinya terkait Zaki, kini seperti menghindar. Afif seperti
menjaga jarak dengan Zia. Riana yang ia ingin mintai keterangan tentang
perubahan sikap Zaki pun, bersikap seolah – olah ia tak mengetahui apapun.
Hal seperti itu berlangsung hampir seminggu. Zia
sudah tidak tahan. Ia harus mengetahui tentang kejanggalan yang terjadi
belakangan ini. Tepat saat ia akan bangkit dari duduknya, Nanda datang
menghampiri. Membawa sebuah undangan berwarna hijau muda berbalut pita berwarna
senada. Undangan yang begitu sederhana, namun, inisial nama yang terpatri
disana begitu bermakna. Zia masih belum percaya saat menerima undangan itu. Untuk
meyakinkannya, Zia membuka pita pengikatnya. Dan benar dugaannya. Nama Zaki ada
disana. Zaki akan bersanding dengan Nanda. Dan itu akan terjadi dua hanya
seminggu dari sekarang.
Seluruh tenaga Zia seakan runtuh. Ia langsung
terduduk lemah. Air mata yang akan menetes berusaha ia tahan dengan sebuah
senyuman seikhlas yang ia bisa. Hari ini, waktu seakan berlalu begitu lambat. Wajah
bahagia Nanda seakan tak berhenti lalu – lalang dihadapannya. Pekerjaannya menjadi
kurang fokus. Ia harus mengerjakan satu pekerjaan yang sama berulang – ulang. Pikirannya
melayang entah kemana. Zia tak menyalahkan waktu dan rasa yang hadir. Waktu
yang mempertemukan mereka dan rasa yang perlahan tumbuh dihati Zia seorang.
Karena jika menyalahkan keduanya, sama saja Zia menyalahkan Tuhan yang telah
mengatur semuanya. Zia tak menyalahkan Afif yang mendekatkannya dengan Zaki, karena
itu hanyalah salah satu cara Afif untuk menyenangkan hatinya, meski Afif tau,
Zaki tak memendam rasa yang sama. Tak pula ia menyalahkan Zaki atau Nanda,
karena yang hadir diantara mereka adalah berkah yang mungkin tak pernah mereka
duga. Ia hanya menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu larut dengan harapan
kosong yang ia bangun sendiri. Harapan tentang indahnya bila mendapat sosok
sesempurna Zaki. Nanda lebih pantas mendampingi Zaki.
Sepulang kantor, Zia tidak langsung pulang. Ia
menuju sebuah pantai yang tak ramai orang berkunjung. Pantai yang sering
menjadi pelepas sedihnya, sendiri. Menikmati matahari yang perlahan kembali
keperaduannya untuk beberapa saat dan bersinar kembali di belahan bumi yang
lain. Baru sebentar ia duduk disana, seseorang menghampirinya dan duduk
disebelahnya.
“aku minta maaf, Mbak,” ucap Afif.
“tumben banget kamu panggil aku Mbak?” Afif hanya
membalas dengan senyum.
“dimaafin nggak?”
“kamu minta maaf buat apa? Memangnya kamu punya
salah?”
“ngerasa salah aja, karena udah ngedeketin kamu sama
Zaki. Meskipun sejak awal aku udah tau kenyataannya. Ngerasa jahat aja,”
“ngerasa jahatnya setelah aku tau kenyataannya kayak
gini?”
“waktu kamu bilang mau ungkapin, kan aku udah bilang,
jangan terlalu kecewa kalo tau kenyataannya,”
“ya kenapa nggak sekalian bilang kenyataannya waktu
itu?”
“karena kalo aku yang bilang, kamu nggak akan
percaya dan tetep akan ngotot kan mau bilang perasaan kamu sama dia? Aku tau
kamu, Mbak,”
“tapi, paling nggak aku nggak akan terlalu berharap,”
“yakin, kalo aku bilang waktu itu kamu nggak terlalu
berharap? Kalo aku sih nggak yakin,” Zia tak menjawab. Afif seperti tau apa
yang ada dipikiran Zia. Kemungkinan yang akan Zia lakukan, Afif bisa
menduganya. Afif begitu mengenal Zia, maka ia hanya ingin membuat Zia bahagia. Meskipun
harus berbohong padanya.
“dimaafin nggak?” tanya Afif.
“ memangnya aku ada bilang kamu punya salah?”
“ ya, kali aja. Oh ya, ada yang mau ngobrol
kayaknya,” Afif menoleh kebelakang. Mengisyaratkan pada seseorang yang sedang
menunggu agak jauh dari tempatnya saat ini untuk mendekat. Dua orang itu nampak
berjalan mendekat dan duduk disisi lain dari Zia.
“kalian rombongan kesini?” tanya Zia, mencoba
mengesampingkan rasa kecewa dan sedihnya saat melihat Zaki dan Nanda yang
datang.
“nggak kok, Zi. Cuma bertiga aja. Itu juga aku yang
minta ikut sama Afif,” jawab Nanda. Zia tak menjawab. Keheningan tercipta
diantara mereka.
“aku sama Mas Zaki mau minta maaf sama kamu, Zi,”
ucap Nanda membuka pembicaraan.
“buat apa?”
“Afif udah bilang semuanya sama kita. Bahkan Mas
Zaki sudah tau, tapi dia mau bicara masih belum dapat waktu yang tepat,”
“dan surat undangan kalian yang bicara sama aku,”
“untuk itu kami kesini. Jujur aku juga baru tau
siang tadi. Waktu sholat dzuhur, biasanya, kamu duduk – duduk dulu. Tapi begitu
aku datang, kamu langsung pergi. Pulang kantor, yang biasanya kamu ceria, kamu
selalu pamitan sama aku, hari ini nggak. Aku tanya Riana, dia bilang tanya
Afif. Aku tanya Afif, awalnya dia nggak mau bilang. Setelah Mas Zaki datang,
Afif baru ceritain semuanya,” jelas Nanda. Zia tak bergeming, hanya
mendengarkan apa yang Nanda ucapkan. “ Rasa ini, sama seperti kamu. Aku juga
nggak pernah menduga jika aku jatuh hati pada Mas Zaki. Kami saling dekat pun,
masih terbilang baru. Bakti sosial yang diadakan di musholla dekat kantor
itulah yang kemudian mendekatkan kami. Rencana Allah, semua tidak bisa manusia
duga. Mas Zaki datang kerumah dan mengkhitbahku, hingga kami merencakan
pernikahan kami,” Zia tetap tak bersuara.
“aku minta maaf karena akhirnya kamu merasa aku
memberi harapan sama kamu. Karena sebenarnya, aku hanya ingin berteman
denganmu. Tak ada perasaan apapun. Rasa yang berbeda hadir saat aku dekat
dengan Nanda. Dan aku hanya tidak ingin membiarkan perasaan itu berlanjut
dengan nafsu. Aku memutuskan berta’aruf dengannya, hingga mengkhitbahnya. Aku
minta maaf atas semua itu,” Zaki akhirnya buka suara saat Zia tak juga memberikan
jawaban.
“Saat rasa yang hadir diantara kalian berasal dari
Sang Maha Cinta, apa aku pantas untuk menentangnya? Karena seberapa kuat pun
aku memaksakan perasaan ini, semuanya tidak akan berujung pada bersatunya aku
dan kamu. Karena rasa itu hanya tumbuh padaku. Tapi rasamu, adalah untuknya. Dan
berkah Allah ada disana. Aku tidak pernah menyalahkan siapapun dan apapun yang
terjadi. Hanya saja, semua yang begitu tiba – tiba membuat kecewa yang cukup
dalam. Aku tidak berhak marah, aku tidak berhak atas rasa yang kamu miliki,”
ucap Zia setelah keheningan tercipta diantara mereka cukup lama.
Semua terkejut dengan penerimaan Zia. Tak ada yang
menyangka Zia akan berkata seperti itu. Terlebih Afif. Ia tau Zia seperti apa,
namun, sore ini, ia tak menemukan Zia yang emosional. Zia yang ia lihat hari
ini, jauh lebih dewasa dari yang ia tau. Dalam hati, Afif berucap syukur.
**
Berbulan berlalu. Kecewa yang sempat singgah sudah
tak berbekas. Hubungannya dengan Nanda baik – baik saja. Sungguh Zia tak
menyimpan amarah pada keduanya. Zaki sudah tidak dikantor itu lagi. Karena
menikah dengan Nanda, Zaki berhenti dari pekerjaannya dan sudah diterima di
perusahaan lain. Afif dan Riana juga sudah melangsungkan pernikahan mereka meski
melalui perjuangan yang cukup sulit. Orang tua Riana awalnya menolak Afif
dengan alasan yang menurut Afif tidak masuk akal, namun, Afif enggan
menceritakannya pada Riana. Sama seperti Zaki – Nanda, Afif dan Riana, salah
satunya pun mengundurkan diri. Bukan Afif, karena dia sedang dipromosikan untuk
naik jabatan. Riana memilih untuk membantu Afif dari rumah saja. Ia
mengundurkan diri dan membuka usaha kecil – kecilan.
Sedang Zia, masih sendiri. Menikmati waktunya selagi
ia masih seorang diri. Afif beberapa kali mencoba mendekatkannya dengan
seseorang, namun, dalam beberapa kesempatan bekerja dalam satu team dengan
Ferry, membuat semuanya seperti berbeda. Afif dapat membacanya, gelagat Zia,
dan tingkah Ferry. Ia tau apa yang harus ia lakukan. Rencana mulai disusun,
sebuah pertemuan awal untuk pembicaraan lebih serius di rumah Afif. Dengan beralasan
Riana membutuhkan model untuk jenis baju yang baru saja dibuatnya, akhirnya
mereka berdua berhasil diundang untuk datang.
Hari yang ditentukan tiba. Zia datang lebih dulu
dari Ferry. Berbasa – basi sebentar, sesi pemotretan dilakukan. Beberapa model
baju dibawakan Zia. Dengan background seadanya, Zia melakukannya dengan
maksimal. Ferry datang berselang waktu setengah jam. Zia masih melalukan sesi
pemotretannya dan Ferry tak lepas memandangnya. Segera setelah sadar, ia lalu
beristighfar dan mengalihkan pandangannya. Sembari menunggu, ia ditemani Afif
mengobrol di teras depan. Tak lama kemudian, Zia selesai melakukan tugasnya dan
cukup terkejut dengan kehadiran Ferry disana. Afif tidak mengatakan pada Zia
jika dia mengundang Ferry, namun, ia sudah memberitahu Ferry bahwa akan ada Zia
nantinya.
“Mas Ferry, kenapa bisa ada disini juga?” tanya Zia.
“dapat undangan dari Afif,” jawabnya singkat.
“duduk, Mbak,” Afif mempersilahkan Zia duduk karena
melihat Zia sedari tadi berdiri. “ Ri, temani aku disini,” panggil Afif pada
Riana.
“aku langsung aja, ya. Sebenarnya ada hal lain
selain alasan yang aku bilang ke kalian waktu aku undang kesini,” Afif membuka
pembicaraan saat Riana sudah duduk disebelahnya. Zia nampak bingung, sedang
Ferry terlihat biasa saja. “gini. Mbak Zia dan Mas Ferry kan sama – sama sudah
dewasa, sama – sama sudah mandiri, dan sama – sama masih sendiri,” Afif menarik
nafas sejenak. “ saya, Afif, mewakili Mas Ferry bermaksud menanyakan hal yang
agak sensitif sama Mbak Zia,”
“buruan deh, Fif. Nggak biasanya kamu muter – muter ngomongnya,”
Zia nampak tak sabar.
“sabar, Mbak. Begini, Mas Ferry bermaksud menanyakan
apakah sudah ada orang yang menarik hati Mbak Zia? Karena Mas Ferry bermaksud
untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius dengan Mbak Zia,”ucap Afif. Zia
terkejut dengan apa yang Afif katakan. Benarkah yang Afif katakan?
“bener, Mas Ferry?” Zia mencoba meyakinkan dirinya
dengan menanyakan langsung pada Ferry. Ferry hanya balas mengangguk dengan
tersipu. “ kenapa nggak bilang langsung sendiri, Mas?”
“karena aku belum punya cukup keberanian untuk
memintanya. Aku tidak seberani Zaki yang langsung menanyakan pada Nanda. Aku
butuh meyakinkan diriku sendiri, dan kamu,”
“lalu, saat ini, apakah Mas Ferry sudah yakin?”
tanya Zia lagi. Ferry terdiam sejenak. Ia menarik nafas dalam lalu....
“Bismillahirrohmanirrohim. Aku yakin dengan
pilihanku. Sholat istkharah yang aku lakukan berujung pada jawaban yaitu rasa
yang dihadirkan Sang Maha Cinta padaku untukmu. Bila kamu berkenan izinkanlah
rasa ini menjadi halal nantinya untuk aku nikmati. Aku tak akan memaksa,
bilapun kamu tidak menerima. Karena aku yakin, segala ketetapan-Nya, itulah
yang terbaik untukku,”
“izinkan rasa ini juga menjadi halal. Datanglah
kerumah dan bertemu Ayah,” jawaban singkat dari Zia melegakan Ferry.
Alhamdulillah, ucapan syukur mengalir begitu saja.
**
“ Alhamdulillahirobbil’alamin. Terima kasih pada-Mu,
Ya Allah. Engkau Maha Mendengar segala doa. Engkau memberi disaat kami
membutuhkan. Terima kasih telah Engkau hadirkan cinta itu. Cinta pada orang
yang berbeda diwaktu yang berbeda. Engkau kenalkan pada hamba tentang kecewa,
untuk kemudian Engkau berikan pada hamba bahagia yang begitu indah. Terima
kasih telah Engkau pertemukan kami, mempersatukan kami dalam sebuah ikrar suci.
Terima kasih telah Engkau hadirkan dia dalam hidup ini. Dia yang berdiri dihadapan
hamba untuk menjadi imam sholat hamba. Terima kasih telah Engkau lengkapi
kehidupan hamba. Terima kasih, Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
Komentar
Posting Komentar