Sebuah Mimpi
Sejak SD saya suka membaca. Dimulai dari sebuah novel misteri Goosebumps milik seorang teman. Dari komik sampai novel teenlit. Saat itu saya hanya dapat menyewa komik atau novel dari sebuah rental buku yang jaraknya cukup jauh dari rumah. 30 menit dengan menggunkan sepeda gayung, siang hari yang panaspun, saya terjang demi menyewa atau mengembalikan buku. Uang jajan saya pada saat itu tidak cukup untuk membeli sebuah novel yang saya suka. Pun, jika uang jajan itu saya kumpulkan sedikit demi sedikit, akan sangat lama sekali untuk membeli sebuah novel saja. Maka menyewa adalah pilihan yang cukup menyenangkan. Bahkan saya pernah menghabiskan membaca novel Harry Potter And The Prissoner Of Azkaban dan buku keempatnya Harry Potter And The Goblet Of Fire seminggu sebelum saya ujian nasional SMP.
Kebiasaan itu tidak dapat saya hentikan. Sesekali di tengah mata pelajaran yang tidak saya suka, saya membaca novel yang saya taruh di kolong meja. Mulai mengkhayalkan betapa mudahnya hidup dalam sebuah novel. Bertemu ( dengan sengaja ataupun tidak ), bertengkar, untuk kemudian saling jatuh cinta. Tapi, semakin dewasa saya menyadari bahwa dunia nyata justru jauh lebih indah, meski kadang lebih rumit dan sulit dipahami daripada cerita fiksi.
Perkembangan zaman pada akhirnya mempengaruhi semuanya. Termasuk dunia fiksi dan tulis menulis. Facebook, twitter, dan segala aplikasi lainnya, menjadi media, ajang bertemu para penulis profesional dengan fansnya, penulis dengan penulis, atau para penulis amatir yang saling bertukar cerita dan ingin dikomentari untuk memperbaiki tulisannya. Dan di media sosial itulah saya bertemu dengan dia. Dengan sosok seseorang yang akhirnya membuat saya memiliki satu mimpi dan tujuan yang sangat ingin saya capai. Seseorang yang menginspirasi saya untuk menulis sebuah cerita fiksi, meski hanya sebuah fanfiction.
Awal saya mengenalnya, melalui sebuan fan group sebuah band ternama Westlife. Dia memposting tiga buah buku yang ditulisnya sendiri. Pada saat itu saya sedang kembali jatuh cinta pada band ini, hingga semua atribut mereka harus saya miliki. Apapun itu, termasuk novel yang memuat mereka di dalamnya. Saya lantas mengirim sebuah personal message padanya, yang mengatakan saya begitu tertarik dengan bukunya dan menanyakan dimana saya bisa mendapatkan buku itu. Dari situ saya mendapat pelajaran baru lagi, yaitu sistem self- publishing yang sebelumnya saya tidak pernah tau.
Sebuah trilogi. Ya, dia menulis sebuah trilogi tentang Westlife. Trilogi yang berhasil membuat saya " jatuh cinta " pada seorang tokoh di luar para personil Westlife yang dia hadirkan pada buku ketiganya. Tokoh yang akhirnya menginspirasi saya untuk membuat sebuah cerita. Awal yang bagus komentarnya. Saya semakin bersemangat untuk menulis. Karena dengan begitu saya bisa hidup dalam situasi yang benar - benar saya inginkan. Dari trilogi itu pulalah, yang membuat saya membangun sebuah mimpi baru yang sederhana namun begitu berarti, bagi dia dan juga bagi saya.
Dia, pada bukunya, memiliki sebuah toko buku. Sebuah toko buku bergaya klasik berlantai dua. Dengan semua program yang dijalankan di dalamnya, terasa begitu menyenangkan. Hear My Story, Story Coner, dan Your Own Story hanyalah sebagian kecil dari sesuatu yang besar di toko buku itu.
Menjamurnya coffee shop di kota tempat saya bekerja pun tak luput menjadi sesuatu yang akhirnya juga menginspirasi saya membangun mimpi saya yang lain. Dan akhirnya kedua mimpi itu mengerucut menjadi sebuah mimpi yang sungguh amat sangat ingin saya wujudkan. Sebuah coffee shop bergaya klasik dan didalamnya terdapat rak - rak buku yang memajang banyak sekali pengetahuan. Yang membuat mereka yang tak dapat berkeliling dunia, dapat menemukan tempat - tempat yang ingin mereka kunjungi disana.
Meski sudah banyak portal berita online, sungguh lebih menyenangkan ketika kita memegang sebuah buku. Membuka tiap lembar halamannya. Membawa imajinasi kita terbang pada situasi yang ditawarkan oleh buku itu. Mencium aroma kertas yang digunakan. Dan melihat jajaran buku yang terpajang dalam rak - rak. Dia yang memiliki mimpi itu. Memiliki sebuah toko buku.
Kami masih sering- sangat sering - behubungan melalui media - media online itu. Kami sering bertukar fikiran tentang cerita yang dia buat. Karena saya, akh, bukannya berhenti menulis tentang tokoh yang membuat saya jatuh cinta itu, hanya saja, seringkali banyak inspirasi cerita yang masuk sehingga cerita itu hanya menjadi sebuah permulaan, atau pertengahan, bahkan hanya akhir. Belum berlanjut.
Dialah Maria Utami Triwiyani. Maria 'Adeline' Triwiyani nama Facebooknya. Maria 'Keavy Collins' juga biasa dia disebut. The person i've never seen before. Kita belum pernah bertemu. Kami hanya dapat melihat dari foto - foto yang pajang di sosmed. Saya sangat berharap bisa bertemu dengannya, saling mengobrol dan bertukar fikiran tentang sebuah toko buku. Seseorang yang begitu menginspirasi saya. Hingga saya memilih jurusan yang saya ambil saat ini di universitas, saya lebih dulu minta pertimbangan padanya.
Saya senang mengenalnya, dan akan jauh lebih menyenangkan bila kita bisa saling bertemu. Suatu hari nanti....Semoga......
Kebiasaan itu tidak dapat saya hentikan. Sesekali di tengah mata pelajaran yang tidak saya suka, saya membaca novel yang saya taruh di kolong meja. Mulai mengkhayalkan betapa mudahnya hidup dalam sebuah novel. Bertemu ( dengan sengaja ataupun tidak ), bertengkar, untuk kemudian saling jatuh cinta. Tapi, semakin dewasa saya menyadari bahwa dunia nyata justru jauh lebih indah, meski kadang lebih rumit dan sulit dipahami daripada cerita fiksi.
Perkembangan zaman pada akhirnya mempengaruhi semuanya. Termasuk dunia fiksi dan tulis menulis. Facebook, twitter, dan segala aplikasi lainnya, menjadi media, ajang bertemu para penulis profesional dengan fansnya, penulis dengan penulis, atau para penulis amatir yang saling bertukar cerita dan ingin dikomentari untuk memperbaiki tulisannya. Dan di media sosial itulah saya bertemu dengan dia. Dengan sosok seseorang yang akhirnya membuat saya memiliki satu mimpi dan tujuan yang sangat ingin saya capai. Seseorang yang menginspirasi saya untuk menulis sebuah cerita fiksi, meski hanya sebuah fanfiction.
Awal saya mengenalnya, melalui sebuan fan group sebuah band ternama Westlife. Dia memposting tiga buah buku yang ditulisnya sendiri. Pada saat itu saya sedang kembali jatuh cinta pada band ini, hingga semua atribut mereka harus saya miliki. Apapun itu, termasuk novel yang memuat mereka di dalamnya. Saya lantas mengirim sebuah personal message padanya, yang mengatakan saya begitu tertarik dengan bukunya dan menanyakan dimana saya bisa mendapatkan buku itu. Dari situ saya mendapat pelajaran baru lagi, yaitu sistem self- publishing yang sebelumnya saya tidak pernah tau.
Sebuah trilogi. Ya, dia menulis sebuah trilogi tentang Westlife. Trilogi yang berhasil membuat saya " jatuh cinta " pada seorang tokoh di luar para personil Westlife yang dia hadirkan pada buku ketiganya. Tokoh yang akhirnya menginspirasi saya untuk membuat sebuah cerita. Awal yang bagus komentarnya. Saya semakin bersemangat untuk menulis. Karena dengan begitu saya bisa hidup dalam situasi yang benar - benar saya inginkan. Dari trilogi itu pulalah, yang membuat saya membangun sebuah mimpi baru yang sederhana namun begitu berarti, bagi dia dan juga bagi saya.
Dia, pada bukunya, memiliki sebuah toko buku. Sebuah toko buku bergaya klasik berlantai dua. Dengan semua program yang dijalankan di dalamnya, terasa begitu menyenangkan. Hear My Story, Story Coner, dan Your Own Story hanyalah sebagian kecil dari sesuatu yang besar di toko buku itu.
Menjamurnya coffee shop di kota tempat saya bekerja pun tak luput menjadi sesuatu yang akhirnya juga menginspirasi saya membangun mimpi saya yang lain. Dan akhirnya kedua mimpi itu mengerucut menjadi sebuah mimpi yang sungguh amat sangat ingin saya wujudkan. Sebuah coffee shop bergaya klasik dan didalamnya terdapat rak - rak buku yang memajang banyak sekali pengetahuan. Yang membuat mereka yang tak dapat berkeliling dunia, dapat menemukan tempat - tempat yang ingin mereka kunjungi disana.
Meski sudah banyak portal berita online, sungguh lebih menyenangkan ketika kita memegang sebuah buku. Membuka tiap lembar halamannya. Membawa imajinasi kita terbang pada situasi yang ditawarkan oleh buku itu. Mencium aroma kertas yang digunakan. Dan melihat jajaran buku yang terpajang dalam rak - rak. Dia yang memiliki mimpi itu. Memiliki sebuah toko buku.
Kami masih sering- sangat sering - behubungan melalui media - media online itu. Kami sering bertukar fikiran tentang cerita yang dia buat. Karena saya, akh, bukannya berhenti menulis tentang tokoh yang membuat saya jatuh cinta itu, hanya saja, seringkali banyak inspirasi cerita yang masuk sehingga cerita itu hanya menjadi sebuah permulaan, atau pertengahan, bahkan hanya akhir. Belum berlanjut.
Dialah Maria Utami Triwiyani. Maria 'Adeline' Triwiyani nama Facebooknya. Maria 'Keavy Collins' juga biasa dia disebut. The person i've never seen before. Kita belum pernah bertemu. Kami hanya dapat melihat dari foto - foto yang pajang di sosmed. Saya sangat berharap bisa bertemu dengannya, saling mengobrol dan bertukar fikiran tentang sebuah toko buku. Seseorang yang begitu menginspirasi saya. Hingga saya memilih jurusan yang saya ambil saat ini di universitas, saya lebih dulu minta pertimbangan padanya.
Saya senang mengenalnya, dan akan jauh lebih menyenangkan bila kita bisa saling bertemu. Suatu hari nanti....Semoga......

Komentar
Posting Komentar