Sebuah Perjalanan, Sebuah Pembelajaran, Sebuah Cerita

The Gowes Jall Story....

Anda pasti sudah pernah mendengar tentang jembatan tertinggi se Asia Tenggara? Ya, sebuah jembatan yang berada di pulau kecil bernama Bali, yang ramai di kunjungi wisatawan saat musim liburan. Hanya sebuah jembatan di daerah Plaga, Badung. Sebuah jembatan yang menjadi tujuan kami sejak pertengahan bulan lalu, dan tercapai pada tanggal 4 Juni 2015. Sebuah jembatan yang bisa dicapai dengan perjalanan satu setengah jam dengan kendaraan bermotor dan itupun dengan kecepatan cukup tinggi.  Sebuah jembatan yang akhirnya kami kunjungi dengan bersepeda. Benar, bersepeda.

Semua orang yang melihat postingan foto saya dan teman - teman di sosial media bertanya - tanya, benarkah kami menempuhnya dengan menggunakan sepeda? Banyak sekali yang meragukannya, terlebih dengan adanya saya yang seorang perempuan. Seakan tak percaya jika kami benar - benar melaluinya dengan bersepeda. Hhmm, kami hanya ingin bersenang - senang dengan sepeda kami, itu saja. Tapi menuju Plaga? kami bertujuh, yang melakukan perjalanan itu sepakat, itu adalah hal tergila yang pernah kami lakukan. Dan ketika mereka yang hanya melihat postingan kami dan menanyakan darimana kami berangkat, dan akhirnya mengetahui jika kami berangkat dari Denpasar menuju Plaga dengan bersepeda, mereka sepakat berkomentar, kalian mencari mati. Sekali lagi, kami hanya ingin bersenang - senang dengan sepeda kami dan kami hanya ingin melampaui diri kami.

So..Lets start the story....

Saya, pada pertengahan bulan lalu membuat janji dengan teman - teman yang memiliki hobi bersepeda untuk bersepeda menuju jembatan Plaga. Sebenarnya, saya yang meminta ikut karena mereka ( teman - teman saya ) sempat memposting foto di jejaring sosial facebook, yaitu mereka bersepeda menuju Pantai Pandawa di daerah Nusa Dua dengan memulai perjalanan dari Denpasar, setelah itu mereka juga sempat bersepeda menuju Tanah Lot. Dan saya, yang juga menyukai berkeliling dengan sepeda, tidak ingin tertinggal moment mereka berikutnya, menuju Plaga. Jujur, saya tidak tau sama sekali, Plaga itu didaerah mana dan seberapa jauh dari tempat tinggal saya, dan saya hanya meng- iyakan ajakan mereka karena saya pun sejak dulu ingin berkunjung kesana. Sekali lagi, saya tidak tau dan tidak berani untuk mencarinya sendiri.

Sehari sebelum berangkat, seorang sahabat dari Surabaya, yang sedang menikmati waktu cutinya selama seminggu di Bali, ingin ikut serta. Dia tidak mau menggunakan sepeda gayung, karena di esok harinya dia harus kembali ke Surabaya, maka dia memilih untuk menggunakan sepeda motornya.

Hari yang kami tunggu tiba. Pukul 06.06 pagi, kami berangkat dari Denpasar menuju Plaga. Kami terfokus pada satu : Jembatan Plaga. No Matter What!. Kami tidak tau bahwa jalan di depan adalah jalan menanjak. Kami tidak tau berapa kali kami akan istirahat. Yang kami tau hanyalah, kami harus sampai disana. Sekali lagi, NO MATTER WHAT!

Bukan perjalanan yang mudah. belum sampai setengah perjalanan, kami berhenti sejenak. Mengambil nafas, dan memberikan asupan energi pada tubuh kami yang kekurangan tenanga. Mengisi angin pada ban sepeda saya yang agak sedikit mengempis. Tidak sampai sepuluh menit, kami melanjutkan perjalanan kami. Saya dan seorang teman yang bertubuh agak gempal, dan teman yang membawa sepeda motor tertinggal paling belakang. Teman - teman yang lain sudah meluncur lebih dulu, karena kondisi sepeda saya yang tidak prima. Beberapa kali saya dan teman saya harus di dorong oleh yang membawa sepeda motor agar bisa menyusul yang lain. Dan lagi - lagi, saya tertinggal di belakang.

Satu jam perjalanan kemudian, kami kembali beristirahat. Di sebuah warung yang mungkin baru saja buka dan kebetulan kami singgahi. Si pemilik menanyakan kemana tujuan kami karena dikiranya kami akan menuju objek wisata Sangeh yang sudah tidak jauh dari sana. Ketika kami mengatakan kemana tujuan kami dan darimana kami memulai perjalanan, mereka hanya terdiam dan senyum agak meragukan kami yang - mungkin saja - tidak akan sampai disana. Cukup dengan cemilan sebagai tenaga baru ditambah satu botol air minum yang habis dengan beberapa kali teguk, kami melanjutkan perjalanan kami.

Tenaga seorang wanita memang tidak bisa disamakan dengan para pria, karena saya selalu tertinggal di belakang. Untunglah ada teman yang membawa sepeda motor sehingga saya sangat terbantu dengan dia. Dan teman saya - yang bertubuh agak gempal itu tadi - yang selalu bersama saya di barisan paling akhir. Perjalanan tidak begitu membosankan karena memasuki daerah pedesaan yang masih banyak terdapat sawah dengan padinya yang mulai menguning. Selepas sebuah turunan tajam dan menikung serta sebuah tanjakan yang menukik tajam, kami beristirahat kembali. Kali ini, di pinggir jalan, dengan sebuah kebun yang entah siapa pemiliknya, dan sawah di seberang jalan. Saya dan teman saya yang selalu berada dibelakang, sudah tidak peduli bahwa kami berada di pinggir jalan tanpa trotoar dengan laju kendaraan yang cukup kencang, kami rebahkan tubuh kami yang sudah amat sangat lelah dengan perjalanan yang seakan tidak pernah sampai. Masih sangaaattt ..... jauh perjalanan kami. Sempat terlintas ingin menyerah, namun, mereka yang selalu berada di depan mengatakan bahwa sudah sejauh ini perjalanan yang kita tempuh, haruskah menyerah disini? Tidak, kami tidak ingin menyerah sampai disini saja.

Sungguh perjalanan yang luar biasa. Membutuhkan mental yang luar biasa dan stamina yang prima untuk bisa melakukan perjalanan ini. Perjalanan paling gila yang pernah kami - orang kota - lakukan. Tanpa terasa waktu hampir menunjukkan pukul 11 siang. Tepatnya pukul 10.45 WITA. Kami harus melanjutkan perjalanan kami. Sebuah perjalanan paling gila yang pernah kami, orang kota, lakukan. Jalan di depan semakin terjal. Saya dan teman saya, yang sudah melambaikan tangan ke kamera, memilih menuntun sepeda kami yang rasanya semakin berat saja, karena perjalanan yang tak kunjung sampai. Dan rasanya kaki ini sudah ingin lepas dari tempatnya. Ragam ucapan keluh kesah mulai keluar dari mulut ini. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah pom bensin yang di depannya terdapat sebuah warung.

Kami kembali beristirahat disana. Teman kami yang tadinya berada paling depan, kini menjadi yang paling akhir sampai karena asupan energinya yang sudah amat sangat menipis. Ditambah ukuran tubuhnya yang tidak bisa dibilang kurus. Dia termasuk luar biasa. Dengan tubuh yang cukup besar, bisa mendayung sepeda dengan begitu semangat hingga tenaganya benar - benar habis. Beristirahat di warung kecil itu, kami sempat mengabadikan moment lelah kami dengan penuh kecerian dengan membuat sebuah video. Video bahwa kami 5km lebih dekat dengan tujuan kami, Jembatan Plaga. Dan ketika si pemilik warung mengatakan bahwa jalan di depan tidak begitu menanjak, jujur, kami sudah tidak percaya sekalipun itu benar. Dan ketidakpercayaan kami terjawab dengan jalanan yang menanjak tersaji di depan kami, ditambah jalanan sedang dalam perbaikan. Lengkaplah sudah. Saya, yang memang tidak sanggup untuk jalanan menanjak, hanya berjalan pelan sembari menuntun sepeda dengan sisa tenaga - meskipun sudah kami 'isi ulang' saat berada diwarung tadi - menuju sebuah patung pahlawan ( saya lupa siapa karena terlalu lelah ).Tidak sampai satu jam kami sudah sampai disana.

Teman kami mengatakan bahwa perjalanan kami sudah sampai. Tapi, saya belum melihat jembatan yang menjadi tujuan kami sebelumnya. Belum benar - benar sampai. Masih ada satu turunan tajam dan sangat mudah untuk dilalui. Dan AKHIRNYA!!!!! KAMI SAMPAI DI JEMBATAN PLAGA!!! Dengan SEPEDA!!! Sungguh lega rasanya. Kami kembali mengabadikannya dengan membuat sebuah video bahwa kami sudah sampai disini, dengan perjuangan yang luar biasa. Tak lupa beberapa dokumentasi berupa foto kami ambil. Sebuah perjalanan 6 JAM yang harus kami tempuh dengan susah payah. Hanya sekitar 20 menit kami berada disana, karena kami harus mengejar waktu untuk kembali ke Denpasar dengan sepeda kami. Tapi, semua itu sudah cukup untuk kami, cukup memberikan sebuah kepuasan pada kami. Sebuah kepuasan yang sangat luar biasa. Dan kami hanya butuh waktu 3 jam untuk sampai kembali ke Denpasar, karena jalan turunan.

Perjalanan yang memberi kami cerita pada anak dan cucu kami nanti. Perjalanan gila yang memberi sebuah pelajaran berharga pada kami, bahwa, apapun yang terjadi, ketika kita sudah memiliki tujuan, hal itulah yang harus kita capai. Ketika mereka di luar sana, yang hanya mendengar cerita kami, mengatakan kami gila, mengatakan kami mati, tidak memikirkan kemampuan diri kami, sungguh mereka tidak tau, bahwa kami hanya ingin melampaui diri kami dengan cara yang menyenangkan menurut kami. Mereka seharusnya mengatakan itu pada mereka yang sudah berkeliling dunia dengan sepeda mereka. Ini cara menyenangkan menurut kami, ini perjalanan kami, dan ini adalah cerita kami.....and i love to be part of this journey

The Gowes Jall starring :
Den Bagus Mr. Kurnia
Bibiz Aja pada Keyboard
Ki Suro Mr. Fandu ( si pemilik ide menuju Plaga )
Teguh
Agung ( yang selalu paling akhir bersama saya )
Adib ( as team medis yang bawa motor )
and also Me....Rizki...the one and only ladies in the gank...

Komentar